Page 224 - Final Sejarah Wilayah Perbatasan
P. 224
bekerja sama dengan Angkatan Laut Republik Indonesia, telah ditenggelamkan 516
kapal yang melanggar kedaulatan Indonesia dan proses hukumnya telah memiliki
ketetapan hukum (inkrag). Sejumlah 516 kapal yang ditenggelamkan adalah 294
kapal Vietnam, 92 kapal Filipina, 76 kapal Malaysia, 23 kapal Thailand, 2 kapal Papua
Nugini, 1 kapal RRT, 1 kapal Nigeria, 1 kapal Belize, dan 26 kapal Indonesia yang
melanggar undang-undang.
Penenggelaman kapal memiliki efek positif karena memberikan keuntungan yang
besar bagi negara, baik dari segi bisnis maupun sumber daya. Secara bisnis, banyak ikan
yang berhasil ditangkap oleh nelayan Indonesia sehingga memberikan keuntungan
yang besar bagi nelayan Indonesia. Peningkatan nilai ekspor ikan laut meningkat
drastis selama empat tahun terakhir. Bahkan, ekspor ikan tuna dari Indonesia sudah
menjadi yang terbesar di dunia. Dari sudut sumber daya, tercatat bahwa biomassa
Indonesia telah tumbuh 300 persen jika dibandingkan dengan periode 4 tahun
sebelumnya. Oleh karena itu, wilayah perairan Indonesia menjadi lebih produktif.
Pelanggar wilayah perbatasan udara pun tidak luput dari pelanggaran yang dilakukan
oleh pelintas batas udara yang memaksa pihak otoritas pertahanan udara Indonesia
menegur dan menggiring mereka ke luar wilayah udara Indonesia.
Kepulauan Natuna yang pada masa kolonial tidak menghasilkan apa-apa, kepulauan
itu telah menjadi wilayah pengekspor kopra, karet, dan cengkih pada periode 1950-
an. Wilayah ini secara bertahap menjadi lebih hidup dan berkembang, seperti daerah
lain di Indonesia. Semenjak wilayah Natuna ditata menjadi bagian dari Kabupaten
Natuna, wilayah itu memiliki potensi sumber daya laut. Sumber daya alam dan
pariwisata yang belum dikelola secara memadai, antara lain sebagai berikut:
1. sumber daya ikan laut yang besar mencapai hingga juta ton per tahun, tetapi
hanya 4.3% digunakan untuk keperluan masyarakat di Kabupaten Natuna
sendiri;
2. pertanian dan perkebunan, seperti kopra, ubi-ubian, cengkih, karet, dan hasil
perkebunan lainnya;
3. ladang gas D-Alpha yang terletak 225 km di sebelah utara Pulau Natuna
dengan total 222 TCT (Trillion Cubic feet) dan gas hidrokarbon sebesar 46
TCT yang merupakan aset sumber gas terbesar di Asia Tenggara.
4. objek wisata bahari, gunung, air terjun, dan objek wisata lainnya.
Dengan mendistribusikan ikan hasil tangkapan para nelayan, kemudian menjualnya
di wilayah-wilayah lain, hal itu membuktikan bahwa para nelayan kecil di Laut Natuna
telah memiliki jaringan laut dengan pelabuhan-pelabuhan kecil yang berada di pulau-
pulau kecil dan ada penduduknya.
Di dekat Kepulauan Natuna, terdapat jalur pelayaran niaga dan angkatan laut
internasional yang sangat strategis. Berdasarkan data dari International Maritime
Bureau, terdapat lebih dari 60.000 kapal setiap tahun yang melewati jalur itu dari
wilayah Asia menuju ke Samudra Hindia kemudian terus ke India, Jepang, Afrika,
dan ke Eropa. Kapal besar yang melewati jalur internasional itu tidak hanya kapal
Mutiara di Ujung Utara 207

