Page 226 - Final Sejarah Wilayah Perbatasan
P. 226
Oleh karena itu, walaupun pemerintah Belanda telah membentuk batin bahkan
menggaji mereka secara bulanan, serangan perompak yang dilakukan oleh suku rayat
tidak dapat dibasmi.
Para perompak yang berada di bawah koordinasi pihak kerajaan tidak dapat dibasmi.
Walaupun pihak Kerajaan Riau Lingga telah dikuasai oleh pemerintah Belanda,
bahkan mereka dijadikan vassal, tetap tidak mampu menghalangi aktivitas para
perompak. Raja yang kedudukannya berada di bawah pemerintah kolonial memiliki
hak menggunakan tanah-tanah pemerintah dan mendapatkan gaji. Namun, berapa
pun besar gaji yang diterima oleh raja dan pegawai kerajaan tidak akan cukup. Hal
ini disinyalir karena raja dan keluarganya hidup dengan bermewah-mewah sehingga
memerlukan dukungan dana dari para perompak.
Yang perlu mendapat perhatian adalah bahwa para perompak sangat loyal kepada
pihak kerajaan. Perjanjian-perjanjian dengan nelayan yang sering berubah menjadi
perompak, dilakukan oleh pemerintah Belanda. Kewajiban para nelayan adalah harus
mempunyai surat izin melaut dari para batin dan mereka tidak diizinkan membawa
senjata. Aturan Belanda ini tidak mereka hiraukan. Daerah operasi mereka sampai
di Pulau Lepar, Bangka, Belitung, dan pulau-pulau di sekitarnya. Bahkan, menurut
laporan pemerintah Belanda, mereka melaut sampai ke Bawean dengan kedok sebagai
penangkap ikan, tetapi sebenarnya mereka melakukan perompakan di laut.
Para pelaut dari Kerajaan Riau Lingga mampu untuk mengarungi sungai, selat, laut,
dan laut yang luas. Dengan menggunakan navigasi seadanya, yang biasanya hanya
berupa tanda-tanda alam, mereka mampu untuk meninggalkan daerahnya untuk
pergi berbulan-bulan meninggalkan kampung halamannya. Kondisi Laut Natuna
dikenal dengan laut yang ganas ombaknya. Di pihak lain terjadi pendangkalan di
pantai dari beberapa pulau dan sungai. Pulau-pulau karang yang dangkal sangat
berbahaya bagi kapal-kapal yang melewati wilayah itu. Bagi para pelaut tradisional,
mereka dapat membaca tanda-tanda alam untuk menentukan daerah-daerah yang
tidak dapat mereka lalui. Berhubung kondisi laut yang sangat membahayakan bagi
para pelaut asing, pemerintah Inggris dan Belanda memasang beberapa rambu dan
mendirikan mercusuar agar terhindar dari bahaya kandas. Jika kapal sampai kandas,
sangat mungkin akan menjadi korban keganasan para perompak. Pulau-pulau kecil
dengan selat-selat yang sempit dan dangkal membuat kepulauan ini sangat ideal bagi
kegiatan para perompak.
Kalau mengingat padatnya jalur pelayaran di LCS terutama yang melewati Kepulauan
Natuna, banyak kapal, khususnya yang berangkat dari Singapura, melalui jalur cepat
menuju ke laut bebas. Jalur ini dikuasai oleh beberapa penguasa laut yang hanya
boleh dilewati setelah melalui “izin” atau “restu” dari penguasa di wilayah itu. Kondisi
ini telah diketahui, baik oleh pelaut asing maupun pelaut Nusantara. Adanya jalur
cepat membawa keuntungan bagi pihak pemilik kapal dan penguasa lokal. Secara
ekonomis, hal ini akan menguntungkan juga bagi perusahaan perkapalan karena
Mutiara di Ujung Utara 209

