Page 225 - Final Sejarah Wilayah Perbatasan
P. 225

penumpang, tetapi  juga kapal barang, kapal tanker, dan kapal – kapal induk milik
                            negara-negara  Eropa  atau Amerika  Serikat.  Dengan  demikian,  jaringan  pelayaran
                            internasional sangat ditentukan lancar atau tidaknya jalur di Kepulauan Natuna. Oleh
                            karena itu, jalur ini merupakan jalur yang harus diamankan demi kelancaran pasokan
                            barang dari Cina, Malaysia, Vietnam, dan Singapura ke Jepang, Afrika, Eropa, dan
                            Amerika Serikat. Klaim yang dilontarkan oleh beberapa negara atas wilayah itu sangat
                            potensial menjadi konflik internasional.

                            Jika ditinjau dari sejarahnya, wilayah Natuna masuk dalam Kerajaan Riau Lingga.
                            Antara  Kerajaan  Johor  dan  Riau Lingga  masih  berkerabat.  Status  kerajaan  Riau
                            Lingga merupakan wilayah Raja Muda atau perdana menteri dari Kerajaan Johor.
                            Oleh karena itu, suatu hal yang biasa apabila seorang raja menghadiahkan sebuah
                            pulau dari pulau-pulau yang dimilikinya yang jumlahnya lebih dari 300 pulau itu
                            kepada kerabat raja. Permintaan Raffles kepada Raja Johor untuk menyerahkan Pulau
                            Tumasik merupakan suatu peristiwa yang tidak begitu istimewa karena status Pulau
                            Tumasik masih berdekatan dengan pulau-pulau di kepulauan yang menjadi bagian
                            dari kerajaan itu dan tidak menimbulkan konflik bagi raja Riau Lingga.

                            Demikian  pula,  penyerahan  hampir  sebanyak  300 pulau dari  Raja  Johor  kepada
                            Raja Riau Lingga merupakan peristiwa yang biasa. Meskipun demikian, hal itu juga
                            merupakan bagian dari diplomasi pemerintah kolonial Belanda dalam melakukan
                            negosiasi  dengan  Inggris  yang  akhirnya  dituangkan  dalam  Traktat  Sumatra  yang
                            ditandatangani pada 1871. Traktat itu akan menyerahkan wilayah Inggris yang berada
                            di Bengkulu kepada Belanda. Namun, jika dibandingkan dengan Malaka yang berada
                            di  bawah  kekuasaan  Belanda,  tidaklah  cukup  imbang bila  dibandingkan  dengan
                            penyerahan Bengkulu. Oleh karena itu, patut diduga dan perlu dilakukan penelitian
                            lebih lanjut bahwa penyerahan 300 pulau kepada pemerintah Belanda merupakan
                            bagian dari persiapan dilaksanakan Traktat Sumatra.

                            Kerajaan  Riau  Lingga  tidak  begitu  memberi  perhatian  terhadap  keamanan  dan
                            kesejahteraan  masyarakat yang  tinggal  di  pulau-pulau yang  masih  menjadi
                            wilayahnya. Upaya menegakkan keamanan di pulau-pulau kecil tidak menunjukkan
                            hasil  yang memuaskan walaupun pemerintah  Belanda  telah  membentuk  batin
                            (kepala  kampung) untuk menjaga  penduduk di  pulau-pulau kecil  dari  serangan
                            para perompak. Perompak yang dinamakan oleh penduduk setempat sebagai lanun,
                            atau ilanun, atau ilanon berasal dari Kepulauan Zulu yang saat ini berada di wilayah
                            Filipina. Sementara itu, perompak yang dinamai rayat berasal dari Siak. Rayat mampu
                            berbahasa Melayu sehingga yang menjadi sasaran  perompak rayat  adalah orang-
                            orang pendatang, khususnya yang datang dari Cina.

                            Para perompak itu merampas, merampok, dan merebut harta penduduk sekaligus
                            menculik  mereka  untuk dijual  pada  perdagangan  gelap.  Penduduk yang  diculik
                            dijadikan tenaga-tenaga yang dipekerjakan di perkebunan-perkebunan. Tenaga kerja
                            untuk perkebunan banyak dipesan di pasar gelap. Para perompak memiliki jaringan
                            kerja sama  dengan agen-agen tenaga kerja dunia yang menghasilkan banyak uang.


              208                                              Sejarah Wilayah Perbatasan  Kepulauan Natuna
   220   221   222   223   224   225   226   227   228   229   230