Page 398 - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Compile 18 Januari 2019
P. 398
Wardiman Djojonegoro
MASA KECIL DAN PENDIDIKAN
Nama lengkapnya Wardiman Djojonegoro. Ia lahir di Pamekasan, Madura, pada tanggal 22 Juni 1934;
1
anak ketiga dari sebelas bersaudara. Ayahnya seorang Kepala Sekolah Hollandsch Inlandsche School (HIS),
sehingga meskipun banyak saudara tidak sulit bagi Wardiman dan saudara-saudaranya bersekolah karena
secara ekonomi dan sosial ayahnya termasuk orang mampu dan terpandang. Sebagai kepala sekolah, ayah
Wardiman sering pindah tugas, yang hanya sekitar dua tahun penempatan di suatu daerah. Oleh karena
itu Wardiman dan saudara-saudaranya mesti pindah setiap dua tahun sekali ke kota berbeda.
Wardiman mengatakan bahwa ia menempuh pendidikan sekolah dasar dan menengah di sejumlah kota,
mulai dari Pemalang (Jawa Tengah), Samarinda dan Balikpapan (Kalimantan), Pamekasan (Madura),
sampai Malang dan Surabaya (Jawa Timur). Perasaan Wardiman yang selalu mengikuti tugas ayahnya
di beberapa daerah berpengaruh terhadap pembentukan karakter dan kepribadiannya, yakni menjadi
sosok yang terbuka.
Wardiman menamatkan Sekolah Menengah Atas (SMA) pada tahun 1953 di Surabaya. Setamat
SMA, pada bulan September 1953, ia melanjutkan pendidikan ke Jurusan Teknik Mesin Universiteit
Indonesia di Bandung (sekarang Institut Teknologi Bandung). Ia diterima tanpa tes masuk (karena
memang tidak ada tes masuk), bahkan mendapat beasiswa Rp 250,00 per bulan. Pada bulan Mei 1954,
Masa Jabatan ia menyelesaikan ujian tingkat pertama (propadeuse 1/P1) dengan hasil sangat memuaskan, lulus untuk
17 Maret 1993 – 16 Maret 1998 11 mata ujian yang diikutinya. Keberhasilan tersebut dianggap luar biasa karena saat itu jarang sekali
mahasiswa dapat menyelesaikan P-1 dalam waktu sembilan bulan. Pada tahun 1955 ia melanjutkan
pendidikan ke Negeri Belanda dengan beasiswa Bank Industri Indonesia (BIN). Menurut Wardiman,
ide menimba ilmu di luar negeri muncul setelah mendengar B.J. Habibie mengatakan ingin belajar di
luar negeri. Di Belanda, Wardiman menuntut ilmu di Technische Hogeschool Delft (TH Delft) pada
Jurusan Arsitektur Perkapalan. 2
Pada saat itu konflik Indonesia-Belanda berkait Irian Barat (Papua) tengah menghangat, yang
mengakibatkan pemerintah Indonesia menarik pulang semua mahasiswa Indonesia yang tengah belajar
di negeri kincir angin itu. Wardiman pun harus meninggalkan Delft pada tahun 1958. Semangat untuk
belajar di luar negeri mengantarkan Wardiman ke Jerman Barat. Ia melanjutkan pendidikan di Rheinish-
Westfaelische Technische Hochschule, Aachen, dan memperoleh gelar Diplom Ingenieur (Dilp. Ing.)
pada bidang teknik mesin pada tahun 1962.
Beberapa tahun kemudian Wardiman kembali ke TH Delft dan pada tahun 1985 berhasil mempertahankan
disertasi dengan judul Shipping As A Decisive Paramater In Indonesia’s Energy Source Development “Policies
For The Shipbuilding Industry”. Setelah menamatkan pendidikan di Delft ia kembali ke Indonesia.
KEBIJAKAN BIDANG PENDIDIKAN
Pengalaman kerja Wardiman dimulai di Bank Bapindo (1963-1967) dan kemudian bergabung dengan
Pemerintah Daerah DKI Jakarta tahun 1966-1979. Tidak lama setelah Kantor Menteri Negara Riset dan
Teknologi dibentuk, Wardiman diangkat menjadi Asisten Menteri I Riset dan Teknologi (1979-1988).
Tugas ini melibatkannya pada tugas-tugas di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) sebagai
Direktur Analisa Sistem (1981-1982) dan sebagai Deputi Ketua BPPT untuk Bidang Administrasi (1982-
1993). Pada tahun 1993 ia diangkat Presiden Soeharto menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan
(Mendikbud) pada Kabinet Pembangunan VI.
386 MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA 1945-2018 MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA 1945-2018 387

