Page 401 - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Compile 18 Januari 2019
P. 401

Wardiman
                                                                                                             Djojonegoro dalam
                                                                                                             Pameran Karya
                                                                                                             Sekolah 1996
                                                                                                             (Sumber: Buku
                                                                                                             Wardiman
                                                                                                             Djojonegoro,
 Dalam memoarnya Wardiman menulis, “Seandainya ada suatu hari yang paling berkesan dalam seluruh             Sepanjang Jalan
                                                                                                             Kenangan)
 kehidupan, hari itu adalah ketika untuk pertama kalinya saya menerima telepon dari Bapak Presiden,
 yaitu mendapat penugasan untuk memimpin suatu departemen yang besar di Republik tercinta ini.”
 Penunjukan tersebut membuat hatinya bergetar. 3

 Beberapa saat setelah menerima tugas sebagai Mendikbud muncul perasaan haru, terhormat, bangga,
 serta beruntung. Ia mulai masuk kantor sehari setelah dilantik dan pada hari kedua mulai melakukan
 orientasi. Saat itu ia sadar bahwa departemen yang dipimpinnya merupakan sebuah lembaga yang
 sangat besar dan kompleks. Oleh karena itu, sebagaimana tertulis dalam otobiografinya, ia menyebut
 Depdikbud ibarat “gajah dengan tujuh kaki”. Gajah berjalan lambat karena masing-masing kaki berjalan
 sendiri-sendiri.  Setidaknya ada dua hal yang menyebabkan ia memiliki penilaian tersebut. Pertama,
 4
 Depdikbud memiliki jalur birokrasi yang kompleks dan rumit, baik secara horizontal, vertikal, maupun
 spasial, sehingga  permasalahannya pun sangat luas  dan relatif berat. Kedua, Depdikbud  memiliki
 pakar dan ahli yang sangat banyak jumlahnya sehingga kesulitan besar yang akan ditemuinya adalah
 menyelaraskan gagasannya dengan pemikiran bawahannya.

 Dibandingkan  dengan  para  pendahulunya  yang  berlatar  belakang  pendidikan  eksakta,  Wardiman
 Djojonegoro memiliki pemahanan yang cukup unik, terutama menyelaraskan kemampuan peserta didik
 dalam menghadapi tantangan globalisasi. Wardiman banyak belajar dari jejak para pendahulunya dan
 memahami kebijakan mereka, terutama dari awal kebangkitan Orde Baru. Dengan kata lain, kebijakan di
 Depdikbud tidaklah harus dimulai dari nol karena menteri-menteri terdahulu telah meletakkan filosofinya.

 Segala kekuatan pemikiran yang dimilikinya dan bersinergi dengan kebijakan sebelumnya untuk
 memecahkan masalah-masalah yang masih ada dengan gagasan-gagasan yang perlu diperbaharui. Ia pun
 memahami bahwa menerapkan gagasan yang lebih akurat dalam membangun pendidikan di masa depan
 memerlukan penelusuran pengalaman ke belakang sejauh mungkin. Situasi politik, ekonomi, budaya,
 dan teknologi terus berkembang sejalan dengan perubahan aspirasi, cita-cita, dan harapan sehingga
 melahirkan tantangan-tantangan yang juga terus berkembang seolah tanpa batas.


 Wardiman menulis Fifty Years Development of Indonesian Education, yang merupakan penelusuran sejarah
 pendidikan di Indonesia. Dalam karya tersebut Wardiman menyebut bahwa pendidikan pada awal
 kemerdekaan (1945-1968) diselenggarakan sesuai dengan kondisi pada waktu itu, yaitu perjuangan
 bangsa mempertahankan dan pengisian kemerdekaan, sejak Proklamasi Kemerdekaan 1945 sampai
 5
 tahun 1968.  Pada periode itu sistem pendidikan masih sangat bervariasi serta ditandai oleh keragaman
 sistem dan tujuan pendidikan dari berbagai kelompok masyarakat yang berbeda-beda. Wardiman
 menyatakan bahwa pada periode tersebut tidak banyak yang dapat dipelajari dari pengalaman dalam
 membangun pendidikan dan kebudayaan karena upaya pembangunan nasional yang sistematis boleh
 dikatakan belum dimulai secara utuh. Meskipun demikian ada satu hal yang dapat dipelajari dari kurun
 waktu tersebut, yakni pembangunan sistem pendidikan dan kebudayaan yang dipengaruhi oleh situasi
 politik yang belum stabil menyebabkan pembangunan pendidikan tidak mungkin berjalan lancar.


 Pendidikan periode berikutnya adalah Pembangunan Jangka Panjang I (PJP I) tahun 1969/1970-1993/1994,
 yakni periode keemasan pembangunan pendidikan di tanah air. Kesempatan belajar pada setiap jenis
 dan jenjang pendidikan terus diperluas. Jumlah sekolah dasar (SD) tumbuh hampir 10 kali lipat dari
 17.848 pada tahun 1940 menjadi sekitar 173.000 pada tahun 1993/1994 dengan angka partisipasi sebesar
 109 persen. Sementara jumlah sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP) tumbuh 84 kali lipat dari 322
 pada tahun 1945 menjadi 269.000 pada tahun 1993/1994 dengan angka partisipasi sebesar 55 persen.
 Adapun untuk sekolah menengah atas (SMA) bertambah 400 kali lipat dari 27 buah pada tahun 1940
 menjadi 79 buah pada tahun 1945 dan 107.000 buah pada tahun 1993/1994 dengan angka partisipasi
 sebesar 43 persen. Sejak tahun 1945 jumlah perguruan tinggi tumbuh dari 38 menjadi 1.228 perguruan




 388  MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA 1945-2018  MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA 1945-2018  389
   396   397   398   399   400   401   402   403   404   405   406