Page 406 - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Compile 18 Januari 2019
P. 406

Salah Satu Kebijakan                                                                                                                                                                                                                  Salah Satu Kebijakan
                          Wardiman                                                                                                                                                                                                                              Wardiman
                          Djojonegoro di                                                                                                                                                                                                                        Djojonegoro di
                          bidang kebudayaan                                                                                                                                                                                                                     bidang kebudayaan
                          adalah pembangunan                                                                                                                                                                                                                    adalah pembangunan
                          kembali Museum                                                                                                                                                                                                                        kembali Museum
                          Nasional sehingga                                                                                                                                                                                                                     Nasional sehingga
                          menjadi museum                                                                                                                                                                                                                        menjadi museum
                          “berkelas                                                                                                                                                                                                                             “berkelas
                          Internasional”                                                                                                                                                                                                                        Internasional”
                          (Sumber: Direktorat                                                                                                                                                                                                                   (Sumber: Direktorat
                          Sejarah)                                                                                                                                                                                                                              Sejarah)






















                                           satu harapan mereka dapat lekas bekerja. Di sisi lain kenyataan tak selamanya sepadan dengan harapan,
                                           sebab secara kualitas lulusan pendidikan kejuruan tidak selamanya  match dengan kebutuhan dunia
                                           usaha yang semakin kompleks dan kompetitif. Banyak pengalaman siswa lulusan SMK Teknik Mesin,
                                           misalnya, justru bekerja sebagai staf administasi kantor atau buruh pabrik. Sebaliknya lulusan SMK
                                           Akutansi justru menjadi montir di bengkel mobil.
                                           Realisasi praktik di lapangan juga sering kali bertolak belakang dari rencana yang diterapkan oleh
                                           pemerintah. Sebagai contoh, janji dan kerja sama antara pemerintah dan dunia bisnis (usaha) seringkali
                                           hanya  manis  di atas  kertas. Alhasil, kesempatan kerja  lulusan pendidikan kejuruan menjadi sangat
                                           terbatas atau bahkan nihil sama sekali. Kritik mendasar pada konsep link and match adalah konsep
                                           ini terkesan hanya berorientasi ekonomis serta meminggirkan substansi pendidikan sebagai wahana
                                           pencerdasan, ruang aktualisasi diri, proses pencarian dan penemuan jati diri, serta proses pemerdekaan
                                           (pembebasan) anak didik sesuai naluri dan keinginan mereka. Kritik ini sangat beralasan, sebab dalam
                                           naungan konsep link and match anak didik dituntut mengerjakan segala sesuatu yang berdaya jangka
                                           pendek dan berorientasi target. Kita juga dapat menambahkan bahwa biaya pendidikan yang dikeluarkan
                                           untuk memenuhi serangkaian konsep link and match juga tidak sedikit.

                                           Kebijakan Wardiman yang juga menjadi torehan sejarah adalah perubahan sistem semester menjadi
                                           caturwulan serta penggantian penamaan Sekolah Menengah Pertama (SMP) menjadi Sekolah Lanjutan
                                           Tingkat Pertama (SLTP). Perubahan nama didasari alasan bahwa dalam konsep wajib belajar sembilan
                                           tahun SMP bukan bagian dari sekolah menengah, tetapi masuk kategori pendidikan dasar. Pada kategori
                                           sekolah menengah hanya ada dua kelompok sekolah, yakni Sekolah Menengah Umum (SMU) dan
                                           Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Sekolah yang masuk kelompok SMU hanya satu, yakni Sekolah
                                           Menengah Atas (SMA); sedangkan sekolah yang masuk kelompok SMK terdiri dari Sekolah Teknik
                                           Menengah (STM), Sekolah Menengah Ekonomi Atas (SMEA), SMKK (Sekolah Menengah Kesejahteraan
                                           Keluarga), Sekolah Pertanian Menengah Atas (SPMA), Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR), Sekolah
                                           Menengah Industri Kerajian (SMIK), dan sebagainya.
                                                                                         15
                                           Kebijakan lain yang tertuju pada pendidikan tinggi tetapi sesungguhnya  didasarkan kondisi pada
                                           pendidikan dasar dan menengah adalah memperluas IKIP menjadi universitas. Dasar gagasan ini adalah
                                           kenyataan bahwa IKIP cenderung diberi tugas menghasilkan guru sebanyak-banyaknya, sehingga fokus
                                           pembangunan hanya pada jumlah dan kuantitas guru. Kompetensi dan kualitas kurang diperhatikan, antara
                                           lain dibuktikan dengan banyaknya keluhan tentang mutu guru yang masih jauh dari yang diharapkan. Oleh
                                           karena itulah Wardiman menggagas peran IKIP menentukan isi kurikulum pembelajaran, memberikan




                             394  MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA 1945-2018                                                                                                             MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA 1945-2018  395
   401   402   403   404   405   406   407   408   409   410   411