Page 405 - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Compile 18 Januari 2019
P. 405

Prof. Dr.-Ing.                                                                                              Wardiman
 Wardiman                                                                                                    Djojonegoro
 Djojonegoro                                                                                                 bersama dua ketua
 memukul gong tanda                                                                                          umum PGRI, Basyuni
 diresmikannya acara                                                                                         dan Prof. Moh. Surya
 Festival Persahabatan                                                                                       pada tahun 2014
 Indonesia Jepang                                                                                            (Sumber: Buku
 1997                                                                                                        Wardiman
 (Sumber: Festival                                                                                           Djojonegoro,
 Persahabatan                                                                                                Sepanjang Jalan
 Indonesia Jepang)                                                                                           Kenangan)























 Dalam  kesempatan  lain  Wardiman  menyebut  link  and  match  semakin  penting  karena  beberapa   proses dan produk pendidikan dengan kebutuhan (needs, demands). Kebutuhan ini bersifat sangat luas,
 kecenderungan.  Pertama, sejalan dengan meningkatnya pembangunan nasional semakin meningkat pula   multidimensional, dan multisektoral, mulai dari kebutuhan peserta didik, kebutuhan keluarga, kebutuhan
 11
 tingginya tuntutan dunia kerja terhadap tenaga kerja yang bermutu baik secara kualitas maupun kuantitas.   masyarakat dan negara, serta kebutuhan pembangunan, termasuk kebutuhan dunia kerja.
                                                                                               12
 Kedua, perubahan struktur dan persyaratan dunia kerja yang semakin kompetitif dan mengandalkan
 keahlian dalam bidang tertentu tanpa mengabaikan wawasan dan pengetahuan secara interdisipliner.   Pada jenjang pendidikan dasar, link and match ditujukan untuk pembentukan pribadi yang berbudi pekerti luhur,
 Ketiga,  pandangan  yang  cenderung  menganggap  tujuan  pendidikan  hanyalah  untuk  pengembangan   beriman dan bertaqwa, berkemampuan, dan mempunyai keterampilan dasar untuk pendidikan selanjutnya di
 kepribadian sudah bergeser menjadi cara berpikir yang memandang bahwa pendidikan semestinya   tingkat menengah dan untuk bekal hidup. Penekan terakhir ditujukan untuk memperoleh keterampilan dasar
 menyiapkan peserta didik secara utuh, meliputi pengetahuan, sikap, kemauan, dan keterampilan fungsional   sebagai bekal hidup yang belum sepenuhnya mengarah pada bidang kejuruan atau pekerjaan tertentu,
               tetapi merupakan keterampilan dasar untuk belajar yang dapat dikembangkan lebih lanjut.
 bagi kehidupan pribadi, warga negara, dan warga masyarakat, serta upaya mencari nafkah. Keempat,
 semakin populernya konsep pengembangan sumber daya manusia (SDM) yang mendapatkan prioritas   Dengan konsep link and match lulusan pendidikan dasar adalah mereka yang mampu belajar tetapi
 tinggi. Dalam hal ini pendidikan dianggap sebagai upaya pengembangan SDM yang berkualitas. Konsep   tidak seharusnya dianggap memiliki keterampilan kerja dan siap untuk bekerja. Tenaga terampil harus
 pengembangan SDM mengimplikasikan bahwa pendidikan merupakan wahana untuk pembangunan dan   dihasilkan dari lulusan pendidikan dasar (SD dan SLTP) yang dilengkapi dengan kursus dan pelatihan
 perubahan sosial dan pendidikan merupakan investasi untuk masa depan.  yang diselenggarakan melalui jalur pendidikan luar sekolah. 13

 Implementasi link and match bisa ditelusuri dalam Kurikulum 1994. Ketentuan-ketentuan yang ada   Pada jenjang pendidikan menengah,  link and match ditujukan untuk membekali pengetahuan dan
 dalam Kurikulum 1994 adalah (1) bersifat objective based curriculum, (2) nama SMP diganti mejadi SLTP   keterampilan pada peserta didik agar memiliki kemampuan untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan
 (Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama) dan SMA diganti SMU (Sekolah Menengah Umum), (3) mata   tinggi atau kemampuan untuk bekerja. Konsep link and match pada pendidikan menengah kejuruan
 pelajaran PSPB dihapus, (4) program pengajaran SD dan SLTP disusun dalam 13 mata pelajaran, (5)   lebih diarahkan untuk menghasilkan lulusan yang diproyeksikan menjadi tenaga kerja tingkat menengah
 program pengajaran SMU disusun dalam 10 mata pelajaran, serta (6) penjurusan SMA dilakukan di kelas   yang  terampil. Mereka  diharapkan  mampu  mengisi kebutuhan  berbagai jenis  lapangan  kerja  sesuai
 II dalam program IPA, program IPS, dan program Bahasa. Selain berisi pokok-pokok perubahan di atas   dengan tingkatannya serta belajar menyesuaikan keterampilanya dengan perkembangan.
 Kurikulum 1994 juga menekankan pada pengembangan pendidikan kejuruan melalui jalur Pendidikan
 Sistem Ganda (PSG) di sekolah-sekolah kejuruan (SMK).  Untuk tujuan tersebut, penerapan link and match lebih ditujukan pada pelaksanaan PSG. Konsep link and
               match pada pendidikan tinggi lebih diarahkan pada peningkatan perguruan tinggi dalam menghasilkan
 Pendidikan Sistem Ganda merupakan bentuk penyelenggaraan pendidikan keahlian profesional yang   lulusan sesuai dengan kebutuhan industri, baik dari segi jumlah, komposisi menurut keahlian, maupun
 memadukan secara sistematik dan sinkron program pendidikan di sekolah dengan program penguasaan   mutu keahlian yang dimiliki. Pendidikan tinggi juga harus mampu menghasilkan lulusan yang seimbang,
 keahlian yang diperoleh melalui kegiatan bekerja atau praktik langsung di dunia kerja. Melalui PSG   baik  dilihat  dari kemampuan  profesional maupun  kemampuan  akademik. Kemampuan  akademik
 pendidikan dapat lebih terarah untuk mencapai tingkat keterampilan atau keahlian profesional tertentu.   menekankan pada kemampuan penguasaan dan pengembangan ilmu, sedang kemampuan profesional
 Adapun tujuan PSG antara lain (1) menghasilkan tenaga kerja yang memiliki keahlian profesional, (2)   menekankan pada kemampuan dan keterampilan kerja. 14
 memperkokoh link and match antara sekolah dan dunia kerja, (3) meningkatkan kesangkilan proses
 pendidikan dan pelatihan tenaga kerja yang berkualitas, dan (4) memberikan pengakuan dan penghargaan   Dalam perkembangannya penerapan kebijakan link and match menuai banyak kritik dan kontroversi
 terhadap pengalaman kerja sebagai bagian dari proses pendidikan.  serta menyimpan dilema tersendiri. Link and match menjadi dilema karena di satu sisi kebijakan ini
               ditujukan untuk meningkatkan kualitas  SDM  masyarakat Indonesia, yang  dengan demikian mampu
 Link secara harfiah berarti ‘adanya pertautan, keterkaitan, atau hubungan interaktif’; sedang match   bersaing dalam dunia kerja (usaha). Masih hangat dalam ingatan kita, sampai kini masyarakat masih
 berarti ‘cocok, padan’. Pada dasarnya link and match merupakan keterkaitan dan kecocokan antara   berbondong-bondong memasukkan anaknya untuk bersekolah di jenjang pendidikan kejuruan dengan




 392  MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA 1945-2018  MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA 1945-2018  393
   400   401   402   403   404   405   406   407   408   409   410