Page 407 - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Compile 18 Januari 2019
P. 407

Salah Satu Kebijakan                                                                                        Salah Satu Kebijakan
 Wardiman                                                                                                    Wardiman
 Djojonegoro di                                                                                              Djojonegoro di
 bidang kebudayaan                                                                                           bidang kebudayaan
 adalah pembangunan                                                                                          adalah pembangunan
 kembali Museum                                                                                              kembali Museum
 Nasional sehingga                                                                                           Nasional sehingga
 menjadi museum                                                                                              menjadi museum
 “berkelas                                                                                                   “berkelas
 Internasional”                                                                                              Internasional”
 (Sumber: Direktorat                                                                                         (Sumber: Direktorat
 Sejarah)                                                                                                    Sejarah)






















 satu harapan mereka dapat lekas bekerja. Di sisi lain kenyataan tak selamanya sepadan dengan harapan,
 sebab secara kualitas lulusan pendidikan kejuruan tidak selamanya  match dengan kebutuhan dunia
 usaha yang semakin kompleks dan kompetitif. Banyak pengalaman siswa lulusan SMK Teknik Mesin,
 misalnya, justru bekerja sebagai staf administasi kantor atau buruh pabrik. Sebaliknya lulusan SMK
 Akutansi justru menjadi montir di bengkel mobil.
 Realisasi praktik di lapangan juga sering kali bertolak belakang dari rencana yang diterapkan oleh
 pemerintah. Sebagai contoh, janji dan kerja sama antara pemerintah dan dunia bisnis (usaha) seringkali
 hanya  manis  di atas  kertas. Alhasil, kesempatan kerja  lulusan pendidikan kejuruan menjadi sangat
 terbatas atau bahkan nihil sama sekali. Kritik mendasar pada konsep link and match adalah konsep
 ini terkesan hanya berorientasi ekonomis serta meminggirkan substansi pendidikan sebagai wahana
 pencerdasan, ruang aktualisasi diri, proses pencarian dan penemuan jati diri, serta proses pemerdekaan
 (pembebasan) anak didik sesuai naluri dan keinginan mereka. Kritik ini sangat beralasan, sebab dalam
 naungan konsep link and match anak didik dituntut mengerjakan segala sesuatu yang berdaya jangka
 pendek dan berorientasi target. Kita juga dapat menambahkan bahwa biaya pendidikan yang dikeluarkan
 untuk memenuhi serangkaian konsep link and match juga tidak sedikit.

 Kebijakan Wardiman yang juga menjadi torehan sejarah adalah perubahan sistem semester menjadi
 caturwulan serta penggantian penamaan Sekolah Menengah Pertama (SMP) menjadi Sekolah Lanjutan
 Tingkat Pertama (SLTP). Perubahan nama didasari alasan bahwa dalam konsep wajib belajar sembilan
 tahun SMP bukan bagian dari sekolah menengah, tetapi masuk kategori pendidikan dasar. Pada kategori
 sekolah menengah hanya ada dua kelompok sekolah, yakni Sekolah Menengah Umum (SMU) dan
 Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Sekolah yang masuk kelompok SMU hanya satu, yakni Sekolah
 Menengah Atas (SMA); sedangkan sekolah yang masuk kelompok SMK terdiri dari Sekolah Teknik
 Menengah (STM), Sekolah Menengah Ekonomi Atas (SMEA), SMKK (Sekolah Menengah Kesejahteraan
 Keluarga), Sekolah Pertanian Menengah Atas (SPMA), Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR), Sekolah
 Menengah Industri Kerajian (SMIK), dan sebagainya.
 15
 Kebijakan lain yang tertuju pada pendidikan tinggi tetapi sesungguhnya  didasarkan kondisi pada
 pendidikan dasar dan menengah adalah memperluas IKIP menjadi universitas. Dasar gagasan ini adalah
 kenyataan bahwa IKIP cenderung diberi tugas menghasilkan guru sebanyak-banyaknya, sehingga fokus
 pembangunan hanya pada jumlah dan kuantitas guru. Kompetensi dan kualitas kurang diperhatikan, antara
 lain dibuktikan dengan banyaknya keluhan tentang mutu guru yang masih jauh dari yang diharapkan. Oleh
 karena itulah Wardiman menggagas peran IKIP menentukan isi kurikulum pembelajaran, memberikan




 394  MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA 1945-2018  MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA 1945-2018  395
   402   403   404   405   406   407   408   409   410   411   412