Page 409 - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Compile 18 Januari 2019
P. 409

perhatian yang besar pada jurusan yang kekurangan pengajar, serta menyusun program pelatihan besar-  masa berikutnya bisa dilaksanakan. Persetujuan Wardiman adalah pemantik utama terselenggaranya
 besaran untuk guru SD. Berkait dengan hal itu Wardiman mengusulkan agar IKIP digabungkan dengan   program ini.
 cabang ilmu lain agar ada “darah baru” pada lembaga tersebut. Dengan penggabungan itu format
 lembaga juga akan berubah dari institut menjadi universitas. Wardiman menegaskan bahwa perubahan   Budaya baca di kalangan anak bangsa yang masih rendah juga menjadi perhatian Wardiman. Dalam
 IKIP menjadi universitas bukan untuk menggantikan atau membubarkan lembaga pendidikan keguruan   rangka menumbuhkan budaya baca Wardiman mencanangkan Bulan Buku Nasional (bulan Mei) dan
 yang sudah ada, tetapi untuk memberdayakannya.  Gagasan itu menimbulkan pro dan kontra, baik di   Bulan  Gemar  Membaca  (bulan  September).  Wardiman  menggagas  Hari  Kunjungan  Perpustakaan
 16
 kalangan Depdikbud maupun IKIP. Namun Wardiman tetap dengan idenya. Dari 10 IKIP yang ada di   tanggal  14 September.  Tidak  tanggung-tanggung, Wardiman melibatkan  Presiden  Soeharto dalam
 Indonesia, ada empat IKIP negeri yang menyetujui gagasan tersebut. Keempat IKIP tersebut adalah IKIP   upaya tersebut. Hari Kunjungan Perpustakaan dicanangkan langsung oleh Presiden Soeharto. Upaya
 Yogyakarta, Bandung, Malang, dan Padang, yang masing-masing lembaga tersebut mengubah namanya   menggairahkan minat budaya  baca  dilakukan dengan merangkul Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI)
 menjadi Universitas Negeri Yogyakarta, Universitas Pendidikan Indonesia, Universitas Negeri Malang,   yang menyelenggarakan pameran buku tiap tahun. Tidak hanya kalangan penerbit, masyarakat juga
 dan Universitas Negeri Padang. 17  diikutsertakan dalam gerakan ini. Jimly Assidiqie, yang didukung oleh sejumlah kalangan, misalnya,
               memelopori pembentukan Perhimpunan Masyarakat Gemar Membaca (PMGM).
 Wardiman juga memberikan perhatian yang besar terhadap karier guru dan kesejahteraan guru. Ia   Dalam  upaya  memberi  penghargaan  terhadap  kreativitas  seniman,  Wardiman  menggagas  adanya
 18
 membuat kebijakan bahwa hanya guru yang bisa menjadi pengawas sekolah  dan jabatan kepala sekolah   “industri budaya”, dengan maksud seni dan budaya dikelola dan diperlakukan selayaknya industri.
 (SD, SLTP, SLTA, dan SMK) dibatasi menjadi dua kali masa jabatan (dua kali empat tahun). Kebijakan   Kesenian dilihat sebagai bagian dari “industri budaya”. Apresiasi dan penghargaan dalam bentuk uang
 tersebut memberi peluang kepada semua guru untuk bisa menduduki posisi pengawas sekolah dan   memiliki arti penting  dalam  pengembangan  produk  seni. Hasil seni yang  bermutu  bisa  dinikmati,
 kepala sekolah.
               dikagumi dan dihargai oleh masyarakat; untuk itu produk seni yang hebat mesti “dijual” dan untuk
 Wardiman menyadari gaji guru relatif rendah. Oleh karena itu ia mengupayakan ada kebijakan khusus   menikmatinya harus “dibeli”. Dengan demikian ada dana yang mengalir dan ada dana yang tersedia.
 untuk  guru. Upaya  itu membuahkan  hasil ketika  Menteri Penertiban  Aparatur Negara  (Menpan)   Torehan sejarah lain yang tidak bisa dipisahkan dari nama Wardiman adalah renovasi atau pembangunan
 mengeluarkan keputusan (Kepmenpan) No. 84 Tahun 1993 tentang  Jabatan Fungsional Guru dan   kembali Museum Nasional. Wardiman menyebut ingin mengubah Museum Nasional yang humble menjadi
 Angka Kreditnya. Inti keputusan itu adalah guru diberi kemudahan naik pangkat. Dengan aturan itu   Museum Nasional yang “berkelas internasional”.  Dia juga mengatakan bahwa pemugaran dan perluasan
                                                         19
 guru dimungkinkan naik pangkat setiap dua tahun dan pola naik pangkat seperti ini berlaku hingga   Museum Nasional sebagai prioritasnya sebagai Mendikbud. Pemugaran dan perluasan, atau menurut istilah
 guru bersangkutan mencapai pangkat Pembina/Golongan IV/a. Untuk naik ke golongan selanjutnya   Wardiman “Membuat Wajah Baru Museum Nasional”, merupakan suatu pekerjaan besar, membutuhkan
 guru harus mengumpulkan angka kredit, yang dapat diperoleh dari produktivitas mereka membuat   dana besar, serta upaya dan semangat yang gigih. Wardiman menempuh berbagai macam cara, melobi ke
 karya ilmiah atau karya inovatif lain. Kebijakan ini berhasil mengantarkan sejumlah besar guru ke   Bapenas, Menteri Keuangan, Pemerintah daerah DKI Jaya, membujuk masyarakat yang rumah atau tempat
 golongan IV/a. Sayangnya “prestasi” mereka mentok pada golongan itu dan sangat sedikit, hanya sekitar   usaha mereka akan tergusur, dan sebagainya. Upaya Wardiman tidak sia-sia. Walaupun ia tidak ikut-serta
 4 %, dari mereka yang berhasil melewati golongan tersebut. Artinya, kebijakan tersebut tidak mampu   dalam acara peresmiannya, pembangunan Museum Nasional sebagai sebuah pusat aktivitas budaya yang
 meningkatkan produktivitas guru agar melahirkan karya ilmiah dan karya inovatif lain.
               menarik, menyenangkan, dan berstandar internasional akhirnya bisa dituntaskan.
               Peran  Wardiman  dalam  pemugaran  dan  peningkatan  gedung  tua  dapat  dilihat  pada  Proyek  Galeri
 KEBIJAKAN KEBUDAYAAN  Nasional. Proyek  ini juga  merupakan  pekerjaan  besar. Banyak  kendala  yang  dihadapi;  tidak  hanya

 Bila kebudayaan dipahami dalam arti yang lebih luas, Wardiman termasuk salah satu Mendikbud   masalah dana, tetapi juga persoalan non-teknis, seperti pengosongan lokasi dari para penghuni lama.
 yang melahirkan sejumlah kebijakan yang berkesan dalam bidang kebudayaan. Wardiman menyebut   Dengan berbagai pendekatan persoalan bisa dituntaskan dan dengan dukungan dana serta bantuan
 bahwa  gagasan  untuk  “memperhatikan  budaya”  telah  tumbuh  dan  ada  dalam  dirinya  sejak  lama,   non-material lain dari berbagai pihak dan instansi, proyek ini bisa dituntaskan, yang diresmikan pada
 setidaknya semenjak ia bertugas di bawah Ali Sadikin di pemerintahan DKI Jakarta Raya pada awal   masa kepemimpinan Wardiman.
 tahun 1970-an.

 Wardiman mempunyai peran besar dalam penggunaan bahasa Indonesia di kalangan para pengusaha,
 industri, pengembang, dan perbankan. Dengan kata  lain, Wardiman adalah tokoh terdepan dalam
 kampanye pemasyarakatan bahasa Indonesia di wilayah perkotaan. Perubahan penamaan gedung,
 nama perumahan, bank, iklan, dan sebagainya dari semula sarat dengan bahasa Inggris menjadi bahasa
 Indonesia sesudah tahun 1995 tidak bisa dipisahkan dari ikhtiar Wardiman.

 Sebagaimana diakui Taufik Ismail, Wardiman mempunyai peran besar dalam pengajaran sastra dan
 bahasa Indonesia di sekolah-sekolah kepada peserta didik. Dalam kegiatan yang diinisiasi oleh Taufik
 Ismail itu program yang dinamakan Membaca, Menulis, dan Apresiasi Sastra (MMAS) para sastrawan
 berbagi pengalaman dan kisah kreatif mereka  dengan para  guru. Melalui pertemuan dan berbagai
 pengalaman tersebut diharapkan guru dapat meraup ilmu dan pengalaman para sastrawan besar
 tanah air. Walaupun semasa Mendikbud Wardiman program ini belum terlaksanana, tetapi pada




 396  MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA 1945-2018  MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA 1945-2018  397
   404   405   406   407   408   409   410   411   412   413   414