Page 408 - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Compile 18 Januari 2019
P. 408

perhatian yang besar pada jurusan yang kekurangan pengajar, serta menyusun program pelatihan besar-                    masa berikutnya bisa dilaksanakan. Persetujuan Wardiman adalah pemantik utama terselenggaranya
                                           besaran untuk guru SD. Berkait dengan hal itu Wardiman mengusulkan agar IKIP digabungkan dengan                        program ini.
                                           cabang ilmu lain agar ada “darah baru” pada lembaga tersebut. Dengan penggabungan itu format
                                           lembaga juga akan berubah dari institut menjadi universitas. Wardiman menegaskan bahwa perubahan                       Budaya baca di kalangan anak bangsa yang masih rendah juga menjadi perhatian Wardiman. Dalam
                                           IKIP menjadi universitas bukan untuk menggantikan atau membubarkan lembaga pendidikan keguruan                         rangka menumbuhkan budaya baca Wardiman mencanangkan Bulan Buku Nasional (bulan Mei) dan
                                           yang sudah ada, tetapi untuk memberdayakannya.  Gagasan itu menimbulkan pro dan kontra, baik di                        Bulan  Gemar  Membaca  (bulan  September).  Wardiman  menggagas  Hari  Kunjungan  Perpustakaan
                                                                                       16
                                           kalangan Depdikbud maupun IKIP. Namun Wardiman tetap dengan idenya. Dari 10 IKIP yang ada di                           tanggal  14 September.  Tidak  tanggung-tanggung, Wardiman melibatkan  Presiden  Soeharto dalam
                                           Indonesia, ada empat IKIP negeri yang menyetujui gagasan tersebut. Keempat IKIP tersebut adalah IKIP                   upaya tersebut. Hari Kunjungan Perpustakaan dicanangkan langsung oleh Presiden Soeharto. Upaya
                                           Yogyakarta, Bandung, Malang, dan Padang, yang masing-masing lembaga tersebut mengubah namanya                          menggairahkan minat budaya  baca  dilakukan dengan merangkul Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI)
                                           menjadi Universitas Negeri Yogyakarta, Universitas Pendidikan Indonesia, Universitas Negeri Malang,                    yang menyelenggarakan pameran buku tiap tahun. Tidak hanya kalangan penerbit, masyarakat juga
                                           dan Universitas Negeri Padang. 17                                                                                      diikutsertakan dalam gerakan ini. Jimly Assidiqie, yang didukung oleh sejumlah kalangan, misalnya,
                                                                                                                                                                  memelopori pembentukan Perhimpunan Masyarakat Gemar Membaca (PMGM).
                                           Wardiman juga memberikan perhatian yang besar terhadap karier guru dan kesejahteraan guru. Ia                          Dalam  upaya  memberi  penghargaan  terhadap  kreativitas  seniman,  Wardiman  menggagas  adanya
                                                                                                            18
                                           membuat kebijakan bahwa hanya guru yang bisa menjadi pengawas sekolah  dan jabatan kepala sekolah                      “industri budaya”, dengan maksud seni dan budaya dikelola dan diperlakukan selayaknya industri.
                                           (SD, SLTP, SLTA, dan SMK) dibatasi menjadi dua kali masa jabatan (dua kali empat tahun). Kebijakan                     Kesenian dilihat sebagai bagian dari “industri budaya”. Apresiasi dan penghargaan dalam bentuk uang
                                           tersebut memberi peluang kepada semua guru untuk bisa menduduki posisi pengawas sekolah dan                            memiliki arti penting  dalam  pengembangan  produk  seni. Hasil seni yang  bermutu  bisa  dinikmati,
                                           kepala sekolah.
                                                                                                                                                                  dikagumi dan dihargai oleh masyarakat; untuk itu produk seni yang hebat mesti “dijual” dan untuk
                                           Wardiman menyadari gaji guru relatif rendah. Oleh karena itu ia mengupayakan ada kebijakan khusus                      menikmatinya harus “dibeli”. Dengan demikian ada dana yang mengalir dan ada dana yang tersedia.
                                           untuk  guru. Upaya  itu membuahkan  hasil ketika  Menteri Penertiban  Aparatur Negara  (Menpan)                        Torehan sejarah lain yang tidak bisa dipisahkan dari nama Wardiman adalah renovasi atau pembangunan
                                           mengeluarkan keputusan (Kepmenpan) No. 84 Tahun 1993 tentang  Jabatan Fungsional Guru dan                              kembali Museum Nasional. Wardiman menyebut ingin mengubah Museum Nasional yang humble menjadi
                                           Angka Kreditnya. Inti keputusan itu adalah guru diberi kemudahan naik pangkat. Dengan aturan itu                       Museum Nasional yang “berkelas internasional”.  Dia juga mengatakan bahwa pemugaran dan perluasan
                                                                                                                                                                                                            19
                                           guru dimungkinkan naik pangkat setiap dua tahun dan pola naik pangkat seperti ini berlaku hingga                       Museum Nasional sebagai prioritasnya sebagai Mendikbud. Pemugaran dan perluasan, atau menurut istilah
                                           guru bersangkutan mencapai pangkat Pembina/Golongan IV/a. Untuk naik ke golongan selanjutnya                           Wardiman “Membuat Wajah Baru Museum Nasional”, merupakan suatu pekerjaan besar, membutuhkan
                                           guru harus mengumpulkan angka kredit, yang dapat diperoleh dari produktivitas mereka membuat                           dana besar, serta upaya dan semangat yang gigih. Wardiman menempuh berbagai macam cara, melobi ke
                                           karya ilmiah atau karya inovatif lain. Kebijakan ini berhasil mengantarkan sejumlah besar guru ke                      Bapenas, Menteri Keuangan, Pemerintah daerah DKI Jaya, membujuk masyarakat yang rumah atau tempat
                                           golongan IV/a. Sayangnya “prestasi” mereka mentok pada golongan itu dan sangat sedikit, hanya sekitar                  usaha mereka akan tergusur, dan sebagainya. Upaya Wardiman tidak sia-sia. Walaupun ia tidak ikut-serta
                                           4 %, dari mereka yang berhasil melewati golongan tersebut. Artinya, kebijakan tersebut tidak mampu                     dalam acara peresmiannya, pembangunan Museum Nasional sebagai sebuah pusat aktivitas budaya yang
                                           meningkatkan produktivitas guru agar melahirkan karya ilmiah dan karya inovatif lain.
                                                                                                                                                                  menarik, menyenangkan, dan berstandar internasional akhirnya bisa dituntaskan.
                                                                                                                                                                  Peran  Wardiman  dalam  pemugaran  dan  peningkatan  gedung  tua  dapat  dilihat  pada  Proyek  Galeri
                                           KEBIJAKAN KEBUDAYAAN                                                                                                   Nasional. Proyek  ini juga  merupakan  pekerjaan  besar. Banyak  kendala  yang  dihadapi;  tidak  hanya

                                           Bila kebudayaan dipahami dalam arti yang lebih luas, Wardiman termasuk salah satu Mendikbud                            masalah dana, tetapi juga persoalan non-teknis, seperti pengosongan lokasi dari para penghuni lama.
                                           yang melahirkan sejumlah kebijakan yang berkesan dalam bidang kebudayaan. Wardiman menyebut                            Dengan berbagai pendekatan persoalan bisa dituntaskan dan dengan dukungan dana serta bantuan
                                           bahwa  gagasan  untuk  “memperhatikan  budaya”  telah  tumbuh  dan  ada  dalam  dirinya  sejak  lama,                  non-material lain dari berbagai pihak dan instansi, proyek ini bisa dituntaskan, yang diresmikan pada
                                           setidaknya semenjak ia bertugas di bawah Ali Sadikin di pemerintahan DKI Jakarta Raya pada awal                        masa kepemimpinan Wardiman.
                                           tahun 1970-an.

                                           Wardiman mempunyai peran besar dalam penggunaan bahasa Indonesia di kalangan para pengusaha,
                                           industri, pengembang, dan perbankan. Dengan kata  lain, Wardiman adalah tokoh terdepan dalam
                                           kampanye pemasyarakatan bahasa Indonesia di wilayah perkotaan. Perubahan penamaan gedung,
                                           nama perumahan, bank, iklan, dan sebagainya dari semula sarat dengan bahasa Inggris menjadi bahasa
                                           Indonesia sesudah tahun 1995 tidak bisa dipisahkan dari ikhtiar Wardiman.

                                           Sebagaimana diakui Taufik Ismail, Wardiman mempunyai peran besar dalam pengajaran sastra dan
                                           bahasa Indonesia di sekolah-sekolah kepada peserta didik. Dalam kegiatan yang diinisiasi oleh Taufik
                                           Ismail itu program yang dinamakan Membaca, Menulis, dan Apresiasi Sastra (MMAS) para sastrawan
                                           berbagi pengalaman dan kisah kreatif mereka  dengan para  guru. Melalui pertemuan dan berbagai
                                           pengalaman tersebut diharapkan guru dapat meraup ilmu dan pengalaman para sastrawan besar
                                           tanah air. Walaupun semasa Mendikbud Wardiman program ini belum terlaksanana, tetapi pada




                             396  MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA 1945-2018                                                                                                             MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA 1945-2018  397
   403   404   405   406   407   408   409   410   411   412   413