Page 403 - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Compile 18 Januari 2019
P. 403
Kiri Kiri
Mengunjungi Lukisan Mengunjungi Lukisan
Gua di Irian Jaya Gua di Irian Jaya
1997 1997
(Sumber: Buku (Sumber: Buku
Wardiman Wardiman
Djojonegoro, Djojonegoro,
Sepanjang Jalan Sepanjang Jalan
Kenangan) Kenangan)
Kanan Kanan
Menteri Wardiman Menteri Wardiman
Djojonegoro dalam Djojonegoro dalam
Pameran SMK Pameran SMK
(Sumber: Buku (Sumber: Buku
Wardiman Wardiman
Djojonegoro, Djojonegoro,
Sepanjang Jalan Sepanjang Jalan
Kenangan) Kenangan)
tinggi negeri dan swasta, dengan jumlah mahasiswa lebih dari 2 juta orang pada tahun 1993/1994 dan
angka partisipasi sebesar 9,5 persen. 6
Pada lima tahun masa kerjanya, terdapat tiga pokok program dan kebijakan yang dilakukan oleh
Wardiman Djojonegoro. Pertama, aspek perluasan kesempatan belajar sebagai suatu proses
7
yang sistematis dan berkesinambungan yang dilakukan sejak awal PJP I. Perluasan kesempatan
belajar dilakukan dengan cara meningkatkan wajib belajar sembilan tahun (Wajar Dikdas 9 Tahun),
sesuai dengan amanat UU Nomor 2 Tahun 1989 yang mengonsepsikan pendidikan dasar bukan
hanya SD 6 tahun tetapi ditambah dengan SLTP 3 tahun. Kedua, untuk melanjutkan kerangka
landasan yang telah dibangun oleh menteri-menteri terdahulu dalam upaya meningkatkan mutu,
beberapa program kelanjutan diperkenalkan oleh Wardiman, seperti pembinaan sekolah unggulan,
peningkatan sarana dan prasarana yang lebih memadai, pengembangan Lembaga Pendidikan
Tenaga Kependidikan (LPTK), dan peningkatan kualifikasi pendidikan guru. Program pascasarjana
serta kegiatan penelitian dan pengembangan juga dikembangkan di perguruan tinggi dalam rangka
menunjang ilmu pengetahuan dan teknologi. Ketiga, sebagai implementasi dari konsep relevansi
pendidikan, diterapkan konsep link and match, yakni konsep yang menyelaraskan antara dunia
pendidikan dan dunia industri.
Dari ketiga program tersebut konsep pendidikan link and match (kesesuaian dan keterpaduan) menjadi
program utama yang dijalankan oleh Wardiman. Konsep ini sebenarnya tidak lahir dari pemikiran
8
Wardiman sendiri, tetapi diadaptasi dari pendidikan di Amerika Serikat. Adalah Prof. Karl Willenbrock,
pakar pendidikan dari Harvard University, Amerika Serikat, yang mengusulkan gagasan perlunya
perusahaan menjadi “bapak angkat” bagi perguruan tinggi. 9
Gagasan ini awalnya berangkat dari kerisauan Wardiman tentang banyaknya lulusan yang tidak sesuai
dengan kebutuhan, baik dari tingkat keterampilan maupun dari jenis keterampilan yang dibutuhkan. Dunia
pendidikan dan dunia kerja seringkali berjalan sendiri-sendiri. Menurut penuturan Wardiman, konsep link
10
and match berangkat dari keadaan nyata masyarakat. Tenaga kerja yang dibutuhkan sepanjang masa
adalah tenaga kerja terampil serta lulusan yang memiliki keterampilan memadai (sesuai). Wardiman
mengakui bahwa lembaga pendidikan sejak kemerdekaan belum mampu memenuhi kedua tuntutan
tersebut. Dengan kata lain kebijakan link and match merupakan kebijakan Depdikbud yang dikembangkan
untuk meningkatkan relevansi pendidikan, yaitu relevansi dengan kebutuhan pembangunan umumnya dan
dengan kebutuhan dunia kerja, dunia usaha, dan dunia industri. Dengan demikian esensi dari relevansi
adalah upaya menciptakan keterkaitan dan kesepadanan antara pendidikan dan pembangunan.
390 MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA 1945-2018 MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA 1945-2018 391

