Page 400 - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Compile 18 Januari 2019
P. 400

Wardiman
                                                                                                                                                                                                                                                                Djojonegoro dalam
                                                                                                                                                                                                                                                                Pameran Karya
                                                                                                                                                                                                                                                                Sekolah 1996
                                                                                                                                                                                                                                                                (Sumber: Buku
                                                                                                                                                                                                                                                                Wardiman
                                                                                                                                                                                                                                                                Djojonegoro,
                                           Dalam memoarnya Wardiman menulis, “Seandainya ada suatu hari yang paling berkesan dalam seluruh                                                                                                                      Sepanjang Jalan
                                                                                                                                                                                                                                                                Kenangan)
                                           kehidupan, hari itu adalah ketika untuk pertama kalinya saya menerima telepon dari Bapak Presiden,
                                           yaitu mendapat penugasan untuk memimpin suatu departemen yang besar di Republik tercinta ini.”
                                           Penunjukan tersebut membuat hatinya bergetar. 3

                                           Beberapa saat setelah menerima tugas sebagai Mendikbud muncul perasaan haru, terhormat, bangga,
                                           serta beruntung. Ia mulai masuk kantor sehari setelah dilantik dan pada hari kedua mulai melakukan
                                           orientasi. Saat itu ia sadar bahwa departemen yang dipimpinnya merupakan sebuah lembaga yang
                                           sangat besar dan kompleks. Oleh karena itu, sebagaimana tertulis dalam otobiografinya, ia menyebut
                                           Depdikbud ibarat “gajah dengan tujuh kaki”. Gajah berjalan lambat karena masing-masing kaki berjalan
                                           sendiri-sendiri.  Setidaknya ada dua hal yang menyebabkan ia memiliki penilaian tersebut. Pertama,
                                                        4
                                           Depdikbud memiliki jalur birokrasi yang kompleks dan rumit, baik secara horizontal, vertikal, maupun
                                           spasial, sehingga  permasalahannya pun sangat luas  dan relatif berat. Kedua, Depdikbud  memiliki
                                           pakar dan ahli yang sangat banyak jumlahnya sehingga kesulitan besar yang akan ditemuinya adalah
                                           menyelaraskan gagasannya dengan pemikiran bawahannya.

                                           Dibandingkan  dengan  para  pendahulunya  yang  berlatar  belakang  pendidikan  eksakta,  Wardiman
                                           Djojonegoro memiliki pemahanan yang cukup unik, terutama menyelaraskan kemampuan peserta didik
                                           dalam menghadapi tantangan globalisasi. Wardiman banyak belajar dari jejak para pendahulunya dan
                                           memahami kebijakan mereka, terutama dari awal kebangkitan Orde Baru. Dengan kata lain, kebijakan di
                                           Depdikbud tidaklah harus dimulai dari nol karena menteri-menteri terdahulu telah meletakkan filosofinya.

                                           Segala kekuatan pemikiran yang dimilikinya dan bersinergi dengan kebijakan sebelumnya untuk
                                           memecahkan masalah-masalah yang masih ada dengan gagasan-gagasan yang perlu diperbaharui. Ia pun
                                           memahami bahwa menerapkan gagasan yang lebih akurat dalam membangun pendidikan di masa depan
                                           memerlukan penelusuran pengalaman ke belakang sejauh mungkin. Situasi politik, ekonomi, budaya,
                                           dan teknologi terus berkembang sejalan dengan perubahan aspirasi, cita-cita, dan harapan sehingga
                                           melahirkan tantangan-tantangan yang juga terus berkembang seolah tanpa batas.


                                           Wardiman menulis Fifty Years Development of Indonesian Education, yang merupakan penelusuran sejarah
                                           pendidikan di Indonesia. Dalam karya tersebut Wardiman menyebut bahwa pendidikan pada awal
                                           kemerdekaan (1945-1968) diselenggarakan sesuai dengan kondisi pada waktu itu, yaitu perjuangan
                                           bangsa mempertahankan dan pengisian kemerdekaan, sejak Proklamasi Kemerdekaan 1945 sampai
                                                     5
                                           tahun 1968.  Pada periode itu sistem pendidikan masih sangat bervariasi serta ditandai oleh keragaman
                                           sistem dan tujuan pendidikan dari berbagai kelompok masyarakat yang berbeda-beda. Wardiman
                                           menyatakan bahwa pada periode tersebut tidak banyak yang dapat dipelajari dari pengalaman dalam
                                           membangun pendidikan dan kebudayaan karena upaya pembangunan nasional yang sistematis boleh
                                           dikatakan belum dimulai secara utuh. Meskipun demikian ada satu hal yang dapat dipelajari dari kurun
                                           waktu tersebut, yakni pembangunan sistem pendidikan dan kebudayaan yang dipengaruhi oleh situasi
                                           politik yang belum stabil menyebabkan pembangunan pendidikan tidak mungkin berjalan lancar.


                                           Pendidikan periode berikutnya adalah Pembangunan Jangka Panjang I (PJP I) tahun 1969/1970-1993/1994,
                                           yakni periode keemasan pembangunan pendidikan di tanah air. Kesempatan belajar pada setiap jenis
                                           dan jenjang pendidikan terus diperluas. Jumlah sekolah dasar (SD) tumbuh hampir 10 kali lipat dari
                                           17.848 pada tahun 1940 menjadi sekitar 173.000 pada tahun 1993/1994 dengan angka partisipasi sebesar
                                           109 persen. Sementara jumlah sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP) tumbuh 84 kali lipat dari 322
                                           pada tahun 1945 menjadi 269.000 pada tahun 1993/1994 dengan angka partisipasi sebesar 55 persen.
                                           Adapun untuk sekolah menengah atas (SMA) bertambah 400 kali lipat dari 27 buah pada tahun 1940
                                           menjadi 79 buah pada tahun 1945 dan 107.000 buah pada tahun 1993/1994 dengan angka partisipasi
                                           sebesar 43 persen. Sejak tahun 1945 jumlah perguruan tinggi tumbuh dari 38 menjadi 1.228 perguruan




                             388  MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA 1945-2018                                                                                                             MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA 1945-2018  389
   395   396   397   398   399   400   401   402   403   404   405