Page 16 - LAPORAN PENELITIAN INSTITUSIONAL
P. 16

16






                       potensial yang dapat menimbulkan konflik dalam lingkungan kerja/belajar yaitu : (1)
                       perbedaan  nilai  pribadi;  (2)  perbedaan  pendekatan  dalam  melihat  permasalahan;
                       dan (3) mengutamakan kepentingan pribadi dalam berkompetisi.

                              Adapun terkait dengan jenis-jenis kejenuhan belajar,  Cross (Syah, 1999:166)
                       menyebutkan  bahwa  kejenuhan  belajar  dapat  dikategorikan  menjadi  tiga  macam,
                       yakni  :  (1)  keletihan  terkait  dengan  aspek-aspek  panca  indera,  baik  berupa

                       pendengaran ataupun penglihatan; (2) keletihan fisik berupa keletihan yang terkait
                       dengan aspek-aspek fisiologis; dan (3) keletihan mental. Menurut para ahli psikologi

                       pendidikan  keletihan  secara  mental  inilah  sebenarnya  yang  berpotensi  terhadap
                       terjadinya  kejenuhan  belajar.  Sedangkan  Dierkes  dkk  (2001:369)  menyatakan
                       bahwa kejenuhan belajar yang terjadi pada peserta didik umumnya disebabkan oleh

                       tidak kondusifnya iklim emosional dalam kelas dan tidak terorganisasinya kegiatan
                       belajar peserta didik itu sendiri.


                    2.5. Relevensi Konseling Kelompok Untuk Mengatasi Kejenuhan (burnout) belajar
                      mahasiswa

                              Penelitian  yang  dilakukan  Jacobs  (2003)  menunjukkan  bahwa  permasalahan
                       yang  terkait  dengan  burnout  belajar  para  peserta  didik  banyak  dikonsultasikan
                       melalui  layanan  bimbingan  dan  konseling.  Kondisi  ini  secara  tegas  menunjukkan

                       bahwa  layanan  konseling  merupakan  salah  satu  alternatif  yang  dapat  dijadikan
                       media  bagi  peserta  didik  dalam  mengatasi  permasalahan  burnout  belajar  yang
                       mereka alami. Pendapat ini dikuatkan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh

                       Cary  Caherniss  (1980)  yang  menemukan  bahwa  intervensi  yang  berorientasi
                       preventif  lebih  diutamakan  daripada  yang  berorientasi  kuratif  dengan  alasan  lebih

                       efektif dan membutuhkan biaya yang lebih murah. Sedangkan aspek lain yang perlu
                       diperhatikan adalah pemahaman konselor bahwa penumbuhan kesadaran dari diri
                       klien/peserta  didik    merupakan  langkah  pertama  untuk  mengatasi  burnout.  Jika

                       konselor  atau  terapis  mencoba  mengintervensi  burnout  tanpa  memahami  dampak
                       burnout  terhadap  klien,  organisasi,  struktur  kerja  yang  berkontribusi  terhadap
                       burnout  maka  sangat  sedikit  hal  yang  dapat  dilakukan  dalam  mengatasi  burnout.

                       Oleh  karena  itu,  memiliki  pengetahuan  dan  memahami  esensi  burnout  beserta
                       dampaknya merupakan langkah awal untuk mengatasi burnout.
   11   12   13   14   15   16   17   18   19   20   21