Page 67 - PANJUL DAN SAMIN
P. 67
Seperti malam ini, Panjul, Samin dan teman-
temannya sudah kompak dan sepakat akan memanen,
memetik buah mangga di kebunnya Pak Sastro Klethong.
Pak Sastro Klethong adalah penduduk desa yang terkenal
pelit, di mata anak-anak adalah orang yang galaknya
minta ampun. Kebetulan pohon mangga di pekarangan
rumah orang itu sedang berbuah masam, hampir masak
di pohon. Sehingga anak-anak itu sengaja menjadikan
target curian malam ini.
Angin semilir dan gelapnya malam membuat anak-
anak itu terasa nyaman. Suara jangkrik, dan binatang
malam mulai berbunyi. Sementara rembulan malam juga
ditutupi kabut, sehingga sinarnya temaram tidak terlalu
terang. Pasti pemilik rumah sudah tidur, dan kesempatan
ini digunakan oleh Panjul, Samin dan temannya untuk
segera mendatangi rumah Pak Sastro Klethong.
Dengan menutup wajahnya dengan sarung, Panjul
dan Samin mulai mendekati rumah itu sambil celingak-
celinguk menoleh ke kanan kiri untuk memastikan tidak
ada orang yang melihatnya. Sementara teman-temannya
yang lain menunggu di sudut jalan yang tersembunyi.
“Sssst… Njul, Panjul… lewat sini saja! Kalau lewat
situ nanti kita dilihat orang,” gumam Samin sambil
berbisik ke telinga Panjul.
“Iya, Min. Langsung kita naik pagar depan saja!!
Kamu berani kan naik pagar itu?”
“Siapa takut,” ujar Samin percaya diri.
56

