Page 172 - BUKU NATIONAL INTEREST DAN AGENDA PEMBANGUNAN EDISI KE-2
P. 172

KEPENTING AN NASIONAL D AN A GEND A PEMBANGUNAN
                   Menggerakkan Agribisnis


                   Melalui Kebijakan Yang

                   Berorientasi Nilai Tambah












                             ibandingkan  potensi yang ada,  perkembangan  sektor pertanian
                             atau agrikultur masih  jauh dari yang diharapkan.  Dari potensi
                             lahan seluas 34,8 juta  ha  misalnya, masih  banyak yang belum
                 Ddigarap  secara maksimal.  Kontribusi  terhadap  lapangan  kerja
                   tinggi,  tidak  kurang dari  35,25 juta  orang penghasilan utamanya dari
                   sektor ini, baik itu petani, nelayan atau peternak. Namun hasil yang mereka
                   peroleh kurang memadai sehingga tidak heran jika sebagian besar kantong
                   kemiskinan diisi oleh mereka yang bekerja di sektor ini.
                      Berdasarkan data sumber penghasilan utama pada 2020, menurut
                   Badan Pusat Statistik (BPS), 46,3% rumah tangga miskin berasal dari sektor
                   pertanian. Sedangkan dari sektor industri 6,58% dan lainnya 32,10%. Angka
                   ini mengidentifikasikan dengan jelas bahwa rata-rata nilai tambah yang bisa
                   dihasilkan pelaku sektor pertanian, jauh di bawah industri ataupun sektor
                   lainnya.
                      “Terlepas dari yang sudah  dilakukan  pemerintah, data menunjukkan
                   bahwa memperkuat pendekatan kebijakan  yang berorientasi pada
                   peningkatan nilai tambah untuk sektor pertanian kian menjadi keharusan,”
                   kata Wakil Ketua DPR RI/Korinbang Rachmat Gobel.
                      Kebijakan  yang berorientasi pada  nilai tambah  adalah kebijakan  yang
                   memungkinkan petani, peternak atapun nelayan mempunyai kemampuan
                   untuk  menyelaraskan produk yang mereka hasilkan dengan preferensi
                   konsumen, baik  dalam soal bentuk, kualitas, ruang, waktu, identitas. Hal ini
                   sulit ditemui pada komoditas yang dihasilkan secara tradisional.  Pertanian
                   tidak  bisa  semata menghasilkan produk  yang hanya bisa  digunakan  atau
                   dikonsumsi  sebagai  kebutuhan  primer,  tetapi  harus  memberikan  nilai
                   tambah yang bisa diolah menjadi barang sekunder dan tersier.
                      Pertanian bernilai tambah merupakan strategi penting untuk
                   meningkatkan kewirausahaan pertanian dan  pembangunan  pedesaan.


                                                      154
   167   168   169   170   171   172   173   174   175   176   177