Page 192 - BUKU NATIONAL INTEREST DAN AGENDA PEMBANGUNAN EDISI KE-2
P. 192

KEPENTING AN NASIONAL D AN A GEND A PEMBANGUNAN


                   Percepatan  Penyelenggaraan  Prasarana dan  Sarana  Kereta Cepat  antara
                   Jakarta dan Bandung. Perpres ini ditandatangani 6 Oktober 2015 yang dengan
                   ditegaskan menyebutkan, proyek ini tidak boleh menggunakan dana APBN
                   dan tak mendapatkan jaminan pemerintah seperti tertuang pada Pasal 4 (2).
                      Perpres ini  juga  mewajibkan untuk memaksimalkan menggunakan
                   kandungan lokal seperti dimuat pada Pasal 6 (1). Dalam Pasal 6 (2) ditegaskan
                   tentang keharusan alih  teknologi. Selanjutnya pada Pasal 7 disebutkan,
                   pemerintah juga  memberi  fasilitas berupa  kemudahan  perizinan, biaya
                   perizinan, serta fasilitas perpajakan dan kepabeanan.
                      Setelah berlangsung  6 tahun,  keputusan  pemerintah  menggandeng
                   China tengah menghadapi ujian berat. Semua persyaratan yang diberikan
                   pemerintah sudah diterabas. Penyelesaian proyek molor, dari dijadualkan
                   tuntas 2018 dan beroperasi 2019, kenyataannya sampai akhir tahun 2021
                   pengerjaannya masih berlangsung. Biaya investasi juga terus membengkak.
                   Janji tidak akan menggunakan dana APBN, kenyataannya pemerintah telah
                   mengucurkan dana untuk mem-backup kelangsungan proyek ini. Inilah yang
                   kemudian melahirkan pertanyaan besar, apakah pemerintah telah mengkaji
                   dengan sepenuhnya validitas kelayakan proyek yang ditawarkan China?
                      Dalam pandangan  Rachmat Gobel, munculnya pertanyaan itu  bisa
                   dimaklumi  karena konsekuensinya terhadap kepentingan nasional sangat
                   besar. Pembengkakkan biaya investasi (over run) akan berdampak  besar
                   pada kemampuan pengembalian dana investasi itu sendiri. Bisa dipastikan,
                   masalahnya akan bermuara risiko kenaikan tarif dan kualitas pelayanan
                   kereta ini kepada masyarakat luas.
                      KCIC sudah  dua kali mengumumkan over run. Pertama pada 2018,
                   perusahaan  ini  mengatakan  biaya  investasi naik  menjadi  US$  6,071
                   miliar atau setara Rp 86,5 triliun. Kedua pada Oktober 2021, KCIC kembali
                   mengumumkan biaya investasi naik lagi menjadi US$ 7,97  miliar atau setara
                   Rp 114,24 triliun. Angka sudah sekitar 43% lebih besar dari penawaran awal
                   yaitu  US$ 5,585 miliar, bahkan sudah melewati angka yang diajukan Jepang
                   US$ 6,223 miliar.
                      Beban  berat  proyek  ini  semakin  terasa, karena 75% dari  biaya
                   pembangunan  berasal dari  pinjaman  China,  hanya  25%  dari  modal  KCIC.
                   Meski dikatakan pinjaman ini tidak dijamin pemerintah, tapi fakta bahwa
                   ada empat (4) BUMN yang terlibat sebagai pemegang saham tentu tidak bisa
                   menghilangkan  kekhawatiran  dampaknya  pada  pemerintah  dan  akhirnya
                   juga akan menjadi beban rakyat banyak.
                      Sayangnya, tidak ada sikap yang tegas pemerintah terhadap kinerja KCIC.
                   Alih-alih memberi sanksi, pemerintah malah merevisi Perpres No 107 Tahun


                                                      174
   187   188   189   190   191   192   193   194   195   196   197