Page 193 - BUKU NATIONAL INTEREST DAN AGENDA PEMBANGUNAN EDISI KE-2
P. 193

KIPRAH TAHUN KEDUA WAKIL KETUA DPR/KORINBANG DR. (H.C.) RACHMAT GOBEL

                    2015 dengan mengeluarkan Perpres No 93 tahun 2021. Pada Perpres yang
                    baru ini, pemerintah seakan-akan mengamini saja terjadinya pembengkak
                    biaya investasi, padahal nilainya sudah jauh lebih besar dari proposal awal,
                    bahkan jauh melebihi penawaran Jepang.
                       Selain mengalihkan pimpinan konsorsium BUMN dari PT Wijaya Karya ke
                    PT KAI, melalui Pasal 2 Pepres No 93 tahun 2021, pemerintah juga melakukan
                    perubahan trase dari Jakarta-Walini-Bandung menjadi Jakarta-Padalarang-
                    Bandung sehingga jalurnya menjadi lebih singkat.
                       Yang paling  kontroversial adalah  perubahan  Pasal  4 Ayat   (2) yaitu
                    pemerintah memberi izin untuk menggunakan dana APBN. Kemudian   pasal
                    3 A ayat (2) yang memuat aturan baru untuk  mengatur tentang “pemberian
                    penjaminan  pemerintah”. Inilah  yang membuat,  semua  komitmen  awal
                    yang diatur pada Perpres No 17 Tahun 2015 menjadi buyar. Tiga janji awal
                    pemerintah bahwa proyek bersifat b to b, tak menggunakan dana APBN, dan
                    tak ada penjaminan pemerintah, telah rontok semua. Bahkan pemerintah
                    telah  melakukan  injeksi  melalui  mekanisme  Penyertaan Modal  Negara
                    (PMN) pada PT KAI sebesar Rp 4,3 triliun.
                       Semua  faktor yang membuat China  memenangkan proyek, telah
                    diterabas. Biayanya sudah jauh lebih besar dari pada biaya usulan Jepang.
                    Apakah ke depan ada jaminan tak ada kenaikan biaya lagi? Apakah ke depan
                    ada jaminan tidak ada permintaan subsidi tarif atau tiket?
                        Berdasarkan semua itulah, Rachmat Gobel melihat harus ada tindakan
                    tegas dan teguran dari pemerintah terhadap  KCIC. Konsorsium ini  harus
                    dituntut berlaku  transparan dan  jujur. “Demi kepentingan nasional, buka
                    saja semuanya. Bagaimana dengan perhitungan konsultan sebetulnya agar
                    kita tahu bagaimana masa depan pembiayaan kereta  cepat ini. Jangan
                    sampai  nanti minta tambahan  duit  lagi. Seolah bangsa ini  diakali  pelan-
                    pelan,” katanya.
                       Ia sangat menyayangkan langkah pemerintah memberikan suntikan modal
                    Rp 4,3 triliun melalui skema PMN ke PT KAI. “Pemerintah harusnya konsisten,
                    sesuai prinsip b to b maka pembiayaan harus dserahkan sepenuhnya kepada
                    investor. Akibat pandemi Covid-19, Indonesia dihadapkan pada keterbatasan
                    anggaran untuk  pemulihan  ekonomi,  ini  harus  menjadi  prioritas, bukan
                    mengucurkan dana APBN untuk kereta cepat. Demi menjaga kepentingan
                    nasional, semua  pihak  yang  terlibat  harus  memperhatikan  hal  ini  secara
                    seksama,” kata Rachmat Gobel seperti dikutip  berbagai  media  Minggu
                    (31/10/2021).
                       Rachmat  Gobel  juga  mempertanyakan  realisasi komitmen  transfer
                    teknologi  yang  dijanjikan  China.  Belum  terlihat  komitmen  ini  berjalan


                                                       175
   188   189   190   191   192   193   194   195   196   197   198