Page 17 - Stabilitas Edisi 191 Tahun 2022
P. 17

memunculkan bank digital. Gelombang   upaya transformasi digital perbankan ke
          tersebut terus berlanjut dengan   depan. Sebut saja risiko kebocoran data,
          kelanjutan teknologi blockchain pada   risiko serangan siber, literasi keuangan
          perbankan, maraknya penggunaan    digital yang masih rendah, hingga
          cryptocurrency hingga kehadiran layanan   infrastruktur teknologi informasi yang
          metaverse.                        belum merata di Indonesia.
            “Tantangan kita saat ini adalah
          bagaimana cara mengoptimalkan     Risiko Fragmentasi
          digitalisasi itu sendiri baik dari sisi   Namun begitu, ada satu lagi ancaman
          internal maupun bagaimana cara kita   yang bakal dihadapi seluruh pelaku
          berkolaborasi bersama memaksimalkan   ekonomi di tahun depan. Seperti yang
          digitalisasi itu. Nah makanya kita bilang   disebutkan oleh Muliaman Hadad saat
          harus siap dengan game changer,” ujar   membuka seminar November lalu,
          Enterprise Risk Management Division   ancaman itu adalah risiko fragmentasi.
          Head BNI, Rayendra Minarsa Goenawan.  Risiko itu berkaitan dengan terpecahnya
            Sebelum 2020, game changer      kecenderungan ekonomi suatu negara
          yang muncul adalah layanan-layanan   dari gejala yang umum.
          keuangan berbasis teknologi, kemudian   “Yang maju makin maju, yang
          pada 2020 muncul bank digital dan juga   menderita semakin menderita, risiko
          praktik open banking. Bahkan pada 2022   fragmentation ini tidak bisa diabaikan
          muncul yang dinamakan metaverse yang   karena dalam dunia yang terkoneksi satu
          mengoptimalkan teknologi blockchain   sama lain yang baik. Implikasinya besar.
          dan mulai digunakan oleh beberapa bank.  Bisa itu terkait dengan isu-isu distraksi   Pierre Olivier Gourincha
            Selain itu, menurut Rayendra,   dan isu isu lain. Yang ditandai dengan
          yang berpotensi menjadi game changer   beberapa dampak yang berbeda antara   Perlambatan di
          di tahun-tahun mendatang adalah   satu kelompok negara dengan negara
          kemunculan central bank digital   lain,” jelas Muliaman.               2023 akan berbasis
          currency (CBDC) sebagai jawaban atas   Contoh kasat mata adalah ekonomi   luas, dengan
          maraknya cryptocurrency. Hal ini tentu   China yang tumbuh 5 persen, lebih tinggi
          harus segera dimitigasi oleh pelaku dan   dari negara lain yang masih menderita   negara-negara
          pengelola bisnis bank.            karena pandemi. Pertumbuhan          yang menyumbang
            Namun begitu, lanjut dia, dalam   ekonomi Negara-negara di kawasan
          setiap perkembangan baru selalu ada   ASEAN adalah contoh lainnya, karena   sekitar sepertiga
          peluang yang berdampingan dengan   kawasan ini dinilai masih meperlihatkan   dari ekonomi
          tantangan. “Peluang yang terbuka dengan   pertumbuhan yang positif.
          CBDC ini akan sangat besar dengan    Nah, menurut Muliaman, perbedaan   global siap untuk
          adanya sebuah transaksi yang akan lebih   yang mencolok dari pertumbuhan   berkontraksi tahun
          lancar lebih cepat dan juga lebih aman.   ekonomi beberapa negara itu akan
          Risikonya tentu berasal dari cyber risk,”   menjadi tantangan tersendiri bagi   ini atau berikutnya.
          kata Rayendra.                    program pemulihan ekonomi dunia di   tiga ekonomi
            Salah satu upaya yang bisa dilakukan   tahun 2023.
          perbankan untuk mengelola risiko hingga   “Kita akan kehilangan keuntungan   terbesar, aS, China
          ke level yang bisa ditangani adalah   yang kita dapatkan dari tren globalisasi.   dan zona euro akan
          dengan kolaborasi dengan pihak lain.   Kita menikmati dampak globalisasi   terus terhenti.
          Untuk BNI sendiri, pihaknya mengaku   selama 20 tahun ini. Banyak efisiensi,
          sudah melakukan kolaborasi dengan   inovasi, peluang investasi, hingga
          sesama bank milik pemerintah lainnya   perdagangan yang kita nikmati selama
          dan juga kolaborasi dengan fintech.  2 dekade ini. Namun, karena pandemi,
            Sebelumnya dalam cetak biru     karena perang, dunia jadi terfragmentasi,
          Transformasi Digital Perbankan yang   dan kita kehilangan benefit yang
          dilansir Otoritas Jasa Keuangan (OJK)   sebelumnya kita dapatkan dari
          tahun lalu, ada beberapa risiko bagi   globalisasi,” ujar Muliaman.*


                                                                             www.stabilitas.id   Edisi 191 / 2022 / Th.XVIII  17
   12   13   14   15   16   17   18   19   20   21   22