Page 19 - Stabilitas Edisi 191 Tahun 2022
P. 19
agresif menaikkan suku bunga. Yang
paling mencolok adalah The Federal
Reserve yang terus menaikan suku bunga
sejak 15 Juni lalu, yakni sebesar 75
basis poin ke kisaran 1,50 persen hingga
1,75 persen. Bank sentral AS itu belum
pernah menaikkan suku bunga sebesar
tiga perempat persen sejak 1994. The Fed,
kembali menaikkan suku bunga acuannya
pada 22 September sebesar 75 basis
poin menjadi 3,0-3,25 persen. Kenaikan
Fed Fund Rate ini merupakan kenaikan
kelima kalinya selama tahun 2022.
Langkah otoritas moneter Paman
Sam itu tentu memberi dampak
signifikan bagi ekonomi global.
“Kenaikan suku bunga oleh The Fed dan
bank sentral lainnya di seluruh dunia
dapat berdampak signifikan pada Asia.
Para pembuat kebijakan di kawasan perlu
berhati-hati menavigasi situasi dengan
campuran kebijakan yang tepat untuk Anton Hendranata
ekonomi mereka, dengan fokus khusus
untuk membantu masyarakat miskin dan
rentan,” tulis Asian Development Bank Fundamental
(ADB) dalam situs resminya.
Perlu diketahui, tingkat kebijakan ekonomi saat
yang ditetapkan oleh bank sentral ini cukup kuat
dengan demikian bertindak sebagai
tumpuan bagi suku bunga lainnya. untuk menahan
The Fed dan bank sentral di negara gejolak eksternal,
maju mulai menaikkan suku bunga
oleh dibilang tahun 2022 sebagai tanggapan atas melonjaknya baik pada sektor
adalah tahun paling dinamis, inflasi domestik. Di AS, suku bunga riil-perbankan,
dalam lima tahun belakangan. rendah dan peningkatan pengeluaran
BBagaimana tidak setelah pemerintah dalam menanggapi pandemi sektor finansial-
perekonomian berhasil melewati momen mengakibatkan pemulihan permintaan valas, maupun
terburuk dalam menghadapi pandemi, yang tajam dan pengetatan pasar tenaga
beragam perubahan silih berganti. kerja tahun lalu, menambah efek inflasi sektor eksternal-
Perubahan tebesar adalah soal kisruh dari gangguan rantai pasokan. “Invasi perdagangan.
geopolitik di Eropa yang muncul karena Rusia ke Ukraina semakin meningkatkan Sebut saja
konflik Rusia-Ukraina. inflasi dengan menaikkan harga energi
Karena perang yang pecah di awal dan pangan,” tulis ADB. cadangan devisa
tahun itu, peta perdagangan dunia mulai Bank Indonesia tentu sudah pasang yang masih
bergeser, terutama di komoditas energi kuda-kuda sejak pertengahan tahun
yang pada akhirnya menerbitkan krisis untuk memitigasi dan merespons mengalami surplus,
energi di kawasan Eropa. Buntutnya, perubahan kebijakan moneter global. juga indikator
kebijakan moneter global terimbas BI, hingga November telah membawa
menjadi lebih ketat dan melahirkan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) makro lainnya.
risiko resesi jilid kedua sepanjang krisis ke level 5,25 persen, suku bunga Deposit
sepanjang hampir tiga tahun ini. Facility sebesar 50 bps menjadi 4,50
Banyak bank sentral yang mulai persen, dan suku bunga Lending Facility
www.stabilitas.id Edisi 191 / 2022 / Th.XVIII 19

