Page 20 - Stabilitas Edisi 191 Tahun 2022
P. 20
sebesar 50 bps menjadi 6,00 persen Posisi cadangan devisa Indonesia
Menurut pengamat dari Centre akhir Oktober 2022 tetap tinggi tercatat
for Banking Crisis, Achmad Deni sebesar 130,2 miliar dolar AS, setara
Daruri, otoritas sektor keuangan harus dengan pembiayaan 5,8 bulan impor atau
mengeksplorasi ancaman risiko resesi 5,6 bulan impor dan pembayaran utang
akibat kenaikan tingkat suku bunga luar negeri Pemerintah, serta berada di
wajib. Karena ada kecenderungan yang atas standar kecukupan internasional
sangat kuat bahwa tingkat suku bunga sekitar 3 bulan impor.
global akan meningkat, sementara itu Terkait hal itu, Ekonom Bank
kondisi stagflasi juga tengah terjadi. Permata Josua Pardede menambahkan,
Namun, lanjutnya, terlepas dari kendati Kebijakan The Fed ini akan
cara-cara di mana suku bunga AS membuat ketidakpastian terhadap
berdampak negatif terhadap ekonomi pergerakan nilai tukar rupiah. Namun,
global, kenaikan suku bunga memang Josua percaya BI masih tetap akan bisa
menguntungkan perdagangan luar menjaga stabilitas rupiah dengan masih
negeri. Dollar AS yang lebih kuat, yang tambunnya cadangan devisa dan berbagai
akan menyertai kenaikan suku bunga, langkah intervensi yang akan disiapkan.
akan meningkatkan permintaan Amerika Sekretaris Perusahaan PT Bank
Serikat atas produk di seluruh dunia dan Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) Rudi
meningkatkan keuntungan perusahaan As Aturridha menuturkan bahwa secara
domestik dan asing. umum diproyeksikan bank-bank akan
“Apapun yang mengurangi tabungan membutuhkan waktu penyesuaian suku
Rudi As Aturridha dunia atau meningkatkan permintaan bunga simpanan dan kredit dalam 3 – 6
investasi dunia akan meningkatkan bulan ke depan. Selain itu, kata Rudi,
Kondisi lain tingkat bunga global. Selain itu, dalam kondisi lain yang menjadi pertimbangan
jangka pendek dengan harga tetap, segala
antara lain likuiditas pasar dan struktur
yang menjadi sesuatu yang meningkatkan permintaan biaya dana atau cost of fund untuk suku
pertimbangan barang di seluruh dunia atau mengurangi bunga dana. “Ke depannya, kami akan
pasokan uang di seluruh dunia,
terus memantau perkembangan suku
antara lain menyebabkan tingkat bunga global naik,” bunga acuan, posisi likuiditas, dan
likuiditas pasar jelas Deni. kompetisi di pasar, agar rate yang kami
dan struktur biaya Masih Kokoh berikan ke nasabah tetap kompetitif,”
pungkasnya.
dana. Ke depannya, Anton Hendranata, Chief Economist Sejak 2020 Rudi menambahkan
kami akan terus BRI mengakui, kenaikan suku bunga The bahwa dari sisi industri, kondisi
FED yang terus terjadi saat ini tentunya
perbankan Indonesia saat ini cukup
memantau dapat semakin menekan pasar obligasi baik dengan permodalan yang kuat
perkembangan dan saham nasional. Selain itu, terjadinya dan kondisi likuiditas terjaga baik.
Pertumbuhan kredit juga terus
capital outflow pada pasar finansial dapat
suku bunga acuan, mendorong depresiasi nilai Rupiah berakselerasi sejalan dengan pemulihan
posisi likuiditas, dan karena permintaan terhadap dollar ekonomi.
Menilik laporan BI yang dirilis per
AS yang meningkat dari penjualan aset
kompetisi di pasar, finansial rupiah. November 2022, kondisi likuiditas di
Namun, berdasarkan riset yang
agar rate yang kami dilakukan BRI, fundamental ekonomi perbankan meningkat dan memadai
dalam mendukung intermediasi.
berikan ke nasabah saat ini cukup kuat untuk menahan Pada Oktober 2022, rasio Alat Likuid
tetap kompetitif. gejolak eksternal, baik pada sektor terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK)
masih tinggi mencapai 29,46 persen
riil-perbankan, sektor finansial-valas,
maupun sektor eksternal-perdagangan. dan meningkat dari bulan sebelumnya.
“Sebut saja cadangan devisa yang masih Pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK)
mengalami surplus, juga indicator makro sebesar 9,41 persen (yoy) dan meningkat
lainnya,” lanjut Anton. dibandingkan bulan sebelumnya sejalan
20 Edisi 191 / 2022 / Th.XVIII www.stabilitas.id

