Page 29 - Dinamika Pendaftaran Tanah Adat di Kampung Naga
P. 29

organisasi yang berbeda yang dikenal dengan konsep pluralisme hukum.
            Benda-Beckmann & Benda-Beckmann (2011)  berpendapat bahwa  Van
            Vollenhoven mengemukakan gagasan hukum adat yang bertujuan untuk
            menjelaskan konsep hukum yang lebih luas.

                Metode  yang digunakan Vollenhoven  untuk  menemukan
            bahwa hukum  adat bukan bertanya  tentang  apa hukumnya, namun
            mengobservasi dan bertanya bagaimana elit adat memutuskan perkara
            tertentu (Pradhani, 2023).  Van  Vollenhoven  telah mendefinisikan
            hukum  adat sejak  zaman  kolonial  sebagai  hukum suku  dengan
            elemen agama.  Menurut Vollenhoven (1981) hukum adat disebut juga
            dengan keseluruhan  aturan  tingkah laku  yang  di  satu  sisi memiliki
            sanksi sehingga disebut sebagai hukum dan disisi lain dalam keadaan
            yang tidak terkodifikasi, sehingga disebut dengan adat. Istilah hukum
            adat dipopulerkan melalui bukunya yang berjudul “Het Adatrecht van
            Nederlandsch Indie” atau Hukum Adat Hindia-Belanda. Kemudian, Ter
            Haar menyempurnakan  rumusan mengenai hukum  adat  yang  dibuat
            oleh Van Vollenhoven. Menurut Haar (1985), Hukum adat merupakan
            keseluruhan kebijakan  yang berasal  dari  ketetapan  para  fungsionaris
            hukum yang memiliki wibawa dan pengaruh seperti kepala adat, tokoh
            agama,  pejabat  desa  dan sebagainya.  Pelaksanaannya secara spontan
            dan  dipatuhi  dengan  sepenuh hati  oleh masyarakatnya. Di  sisi lain,
            Holleman (1972) menyebutkan bahwa hukum adat merupakan hukum
            yang mandiri karena norma-norma hukum yang ada merupakan norma
            hidup  yang diikuti  dengan  sanksi  dan ditaati  oleh  masyarakat.  Lebih
            lanjut J.H.P Bellefroid berpendapat bahwa hukum adat termasuk dalam
            peraturan-peraturan  hidup  yang  meskipun  tidak diundangkan oleh
            penguasa, namun tetap dihormati dan dipatuhi oleh rakyatnya dengan
            keyakinan bahwa peraturan tersebut adalah hukum (Harahap, 2023).

                Pasca kemerdekaan, Soepomo sebagai ahli hukum adat Indonesia,
            mengemukakan hukum adat sebagai putusan petugas hukum yang berisi
            peraturan  hukum adat  (Nugroho,  2016).  Untuk  mengetahuinya,  harus
            dilakukan penyelidikan setempat dengan cara pendekatan kepada pejabat
            desa, tetua adat, atau orang terpenting di wilayah yang mereka ketahui
            (Soepomo, 1977). Simarmata (2018)  berpendapat bahwa  pandangan



            10    Dinamika Pendaftaran Tanah Adat
                  di Kampung Naga
   24   25   26   27   28   29   30   31   32   33   34