Page 30 - Dinamika Pendaftaran Tanah Adat di Kampung Naga
P. 30

yang  menganggap hukum  adat  sebagai  jurisprudence menempatkan
            asas di atas segalanya karena hukum adat bersifat abstrak. Pandangan
            ini memungkinkan hukum adat untuk berlaku di berbagai tempat dan
            waktu. Lebih lanjut  Aditya & Yulistyaputri  (2019) menjelaskan bahwa
            kedudukan hukum adat dalam sistem hukum sama dengan kedudukan
            hukum pada umumnya.  Perbedaannya terletak pada hukum adat yang
            hanya berlaku untuk orang Indonesia dan tidak tertulis. Terlebih lagi,
            UUD 1945 sebagai konstitusi mengakui bahwa ada hukum tertulis dan
            tidak tertulis. Salah satu hukum tidak tertulis adalah hukum adat.
                Hukum  adat  berhubungan  dengan  sistem  tenurial di  masyarakat
            adat. Mengutip Fauzan et al. (2022), kata “tenurial” berasal dari bahasa
            latin “tenure” yang berarti memelihara, memegang, dan memiliki. Istilah
            ini  biasanya digunakan dalam  uraian  yang  membahas  masalah dari
            aspek penguasaan tanah dan sumberdaya berdasarkan status hukumnya.
            Sistem tenurial  adalah  serangkaian  hak  untuk  memanfaatkan tanah
            dan sumber daya alam yang dimiliki oleh masyarakat. Sistem tenurial
            juga menetapkan batasan tertentu pada proses pemanfaatan tanah dan
            sumber  daya  alamnya (Arizona,  2008).  Menurut  Zevenbergen,  sistem
            tenurial dibentuk dan ditentukan oleh hukum adat atau tidak tertulis
            (Soinbala, 2022).

                Dalam  sistem  hukum  Eropa  Kontinental,  konsep  yang  sama
            digunakan  untuk hubungan hukum  antara individu  dengan  tanah
            dikenal  sebagai hak kebendaan (Kolopaking, 2021). Indonesia masih
            mewarisi  konsep ini, sehingga tenurial adat berarti  hubungan hukum
            yang berisi kepentingan antara individu atau kelompok individu dengan
            tanah dalam arti luas berdasarkan hukum adat. Oleh karena itu, tenurial
            adat sangat terkait dengan keberadaan masyarakat hukum dan ulayatnya.

                Sistem tenurial tradisional disebut juga dengan praktik penguasaan
            tanah dan  sumber daya alamnya  yang dijalankan oleh  sekumpulan
            komunitas baik dikenal sebagai masyarakat adat maupun tidak (Wibowo
            et al., 2021). Pada komunitas  yang  dijuluki  dengan masyarakat  adat,
            muncul  istilah  sistem  tenurial  ini  dengan  berbagai sebutan  seperti
            ‘simpukng’ di masyarakat Benuaq Kalimantan Timur, ‘ulayat’ di Sumatera
            Barat, ‘marga’  di  Lampung, ‘petuanan’  di  Maluku,  dan  sebagainya



                                                                   BAB 02   11
                                                    Masyarakat Adat dan tanahnya
   25   26   27   28   29   30   31   32   33   34   35