Page 233 - Kondisi dan Perubahan Agraria di Ngandagan
P. 233

Ahmad Nashih Luthfi  dkk.
            dan menjadikannya terbuka mekanisme dan aturan
            penggunaan dan pemanfaatan tanah. Aturan lokal ini
            tidak mesti ditransformasikan ke dalam legalitas formal.
            Namun jika ingin dilakukan, maka hukum formal ini ha-
            rus merekognisi aturan yang berlaku di lokal Nganda-
            gan. Dengan inilah terjadi titik temu inisiatif kepengu-
            rusan dari bawah (from below) dan inisiatif yang reformis
            dari para aktir negara di level atas (from above).
                Cara-cara yang ditempuh seperti melakukan ajudi-
            kasi sebagai standar formal dalam pengaturan perta-
            nahan versi pemerintah saat ini, bisa dihindari jika hal
            itu justru mengakibatkan munculnya konflik pertanahan,
            dan bukan malah menyelesaikannya. Harapan
            dilakukannya ajudikasi agar dapat “menghidupkan
            kapital yang mati” dari tanah yang semula tanpa “iden-
            titas formal” menjadi tanah “yang bernama dan berno-
            mor”, bisa jadi tidak terpenuhi karena telah demikian
            terparsialisasinya luasan tanah masyarakat Ngandagan
            ke dalam plot-plot kecil. Gambaran semacam ini barang-
            kali mencerminkan fenomena petani gurem Jawa saat ini,
            yang jumlahnya dari tahun ke tahun semakin meluas,
            atau bahkan mereka terjerumus ke dalam kelompok petani
            tanpa lahan.










            212
   228   229   230   231   232   233   234   235   236   237   238