Page 231 - Kondisi dan Perubahan Agraria di Ngandagan
P. 231

Ahmad Nashih Luthfi  dkk.
            landreform bertujuan mengakhiri hak-hak asing dan
            konsesi kolonial atas tanah, mengakhiri penghisapan
            feodal, serta memperkuat dan memperluas pemilikan
            tanah terutama untuk kaum tani. Hal ini tercermin dari
            prinsip “tanah untuk penggarap”. Selama masa Orde
            Baru, tanah buruhan ini dipersepsi kembali menjadi “hak
            garap” yang ada di tangan pemegangnya hingga saat
            ini.
                Dalam kondisi dan persepsi semacam ini, penelitian
            ini menyarankan agar tanah buruhan itu menjadi tanah
            komunal dengan diperketat tata cara pengurusannya dan
            diberi payung hukum secara legal. Kepengurusan dan
            payung hukum ini kemudian ditempatkan sebagai aturan
            bersama. Diharapkan dengan ini jaminan akses atas
            tanah bagi petani tanpa tanah tetap terjaga.  Saran ini
            dipilih sebagai jalan tengah karena tidak mungkinnya
            tanah buruhan ini dijadikan sebagai tanah hak milik yang
            jatuh ke tangan penggarap.
                Hal kedua adalah masalah diferensiasi sosial. Land-
            reform di Ngandagan tahun 1947 mampu mencegah terja-
            dinya diferensiasi sosial lebih jauh. Diferensiasi tidak
            terjadi pada masa Revousi Hijau di Ngandagan sebab
            telah didahului dengan adanya proses redistribusi. Jus-
            tru yang terjadi adalah parsialisasi tanah yang akut pada
            tanah kulian maupun tanah buruhan.
                Hal ketiga, dalam konteks kekinian, peranan tanah
            pertanian dalam ekonomi rumah-tangga petani gurem


            210
   226   227   228   229   230   231   232   233   234   235   236