Page 178 - MANAJEMEN KEUANGAN PUBLIK: PRINSIP, REGULASI, DAN IMPLEMENTASI
P. 178

BAGIAN  II   157
                                                           Penganggaran

            mekanisme APBN dan selaras dengan prioritas Rencana Pembangunan
            Jangka Menengah (RPJM). Keterbatasan sumber pembiayaan eksternal
            dan fluktuasi pasar global membuat PDN menjadi pilihan penting,
            terutama untuk membiayai kegiatan prioritas seperti pembangunan
            infrastruktur dan pemberdayaan industri dalam negeri, dengan tetap
            menjaga keberlanjutan fiskal melalui pengendalian batas maksimum
            pinjaman dan analisis risiko yang ketat.
                Proses perencanaan PDN dimulai dengan penyusunan rencana
            batas maksimum oleh Menteri Keuangan, yang mempertimbangkan
            kebutuhan riil pembiayaan, kemampuan membayar kembali, serta
            kapasitas penyerapan anggaran. Batas ini kemudian diintegrasikan
            ke dalam  dokumen perencanaan fiskal  seperti  Rencana Kerja
            Pemerintah (RKP) dan pagu indikatif APBN. Kementerian/lembaga,
            pemerintah daerah, atau BUMN yang ingin mengajukan pinjaman
            wajib menyusun proposal kegiatan yang  telah  melalui penilaian
            kelayakan  oleh Menteri Perencanaan,  mencakup aspek teknis,
            finansial, dan kesiapan implementasi seperti ketersediaan lahan atau
            alokasi dana pendamping. Seleksi ini memastikan bahwa PDN hanya
            dialokasikan untuk proyek-proyek yang benar-benar berdampak pada
            pembangunan nasional, seperti infrastruktur pelayanan publik atau
            investasi yang menghasilkan penerimaan, sekaligus  menghindari
            duplikasi atau inefisiensi anggaran.

                Implementasi PDN melibatkan tahapan yang rigor, mulai dari
            seleksi calon pemberi pinjaman—yang harus memenuhi syarat seperti
            likuiditas sehat bagi BUMN atau kemampuan fiskal memadai bagi
            pemerintah daerah—hingga penandatanganan Naskah Perjanjian
            Pinjaman (NPP) yang memuat klausul jumlah, peruntukan, dan
            persyaratan teknis  seperti jadwal penarikan  dan pembayaran.
            Penerusan pinjaman kepada pemerintah daerah atau BUMN sebagai
            penerima juga melalui proses serupa, dengan tambahan persyaratan
            seperti rasio kemampuan membayar (DSCR) minimal 2,5 bagi daerah
            atau laporan keuangan audited bagi BUMN. Mekanisme ini dirancang
            untuk memastikan bahwa penerima pinjaman memiliki kapasitas
            memenuhi kewajibannya, sementara sanksi seperti pemotongan DAU
   173   174   175   176   177   178   179   180   181   182   183