Page 293 - MANAJEMEN KEUANGAN PUBLIK: PRINSIP, REGULASI, DAN IMPLEMENTASI
P. 293

272    MANAJEMEN KEUANGAN PUBLIK: PRINSIP, REGULASI, DAN IMPLEMENTASI
                   Ilustrasi Pada Kementerian Agraria dan Tata Ruang/ Badan Pertanahan Nasional

            oleh kapasitas SDM yang beragam di setiap daerah, di mana beberapa
            wilayah masih mengalami kesulitan dalam memenuhi standar
            pemantauan dan evaluasi yang ditetapkan secara nasional. Selain itu,
            konsistensi indikator kinerja  antara perencanaan dan pelaksanaan
            seringkali tidak terjaga,  mengakibatkan  kesenjangan  antara target
            yang  ditetapkan  dalam  dokumen  perencanaan  dengan  realisasi  di
            lapangan.
                Di sisi  lain, kualitas data menjadi tantangan penting yang
            memengaruhi akurasi evaluasi. Laporan triwulanan yang seharusnya
            menjadi dasar pengambilan keputusan seringkali tidak mencerminkan
            kondisi  riil akibat keterbatasan metode pengumpulan data atau
            ketidakcukupan  verifikasi di tingkat lapangan. Misalnya, realisasi
            anggaran dan capaian output mungkin tercatat secara administratif,
            tetapi dampaknya terhadap  outcome  pembangunan  sulit  diukur
            secara objektif tanpa sistem indikator yang terstandarisasi. Regulasi
            ini sebenarnya telah mengamanatkan kriteria evaluasi berbasis
            efisiensi, efektivitas, dan kemanfaatan, tetapi implementasinya kerap
            terkendala oleh kurangnya integrasi antara sistem perencanaan,
            penganggaran, dan pelaporan. Akibatnya, hasil evaluasi tidak selalu
            mampu memberikan rekomendasi yang actionable untuk perbaikan
            kebijakan.

                Untuk mengatasi tantangan tersebut, inovasi digitalisasi
            pelaporan  dan  penguatan  sistem  monitoring-evaluasi  (monev)
            menjadi solusi yang semakin relevan. Pemanfaatan platform
            teknologi dapat memangkas birokrasi pelaporan, memastikan
            konsistensi data,  serta  mempercepat alur informasi dari  tingkat
            SKPD hingga kementerian. Dalam konteks ini, PP No. 39 Tahun 2006
            sebenarnya telah  membuka ruang  bagi adaptasi teknologi  dengan
            menekankan prinsip  transparansi  dan aksesibilitas informasi bagi
            pelaku pembangunan. Digitalisasi juga memungkinkan analisis real-
            time terhadap penyerapan anggaran dan capaian program, sehingga
            memudahkan identifikasi kendala secara  dini dan penyusunan
            tindakan korektif yang lebih  responsif. Selain itu,  pengembangan
            sistem  berbasis  data  terpadu  dapat  memperkuat  sinergi  antara
   288   289   290   291   292   293   294   295   296   297   298