Page 356 - MANAJEMEN KEUANGAN PUBLIK: PRINSIP, REGULASI, DAN IMPLEMENTASI
P. 356

BAGIAN V   335
                                                              Pelaporan

            tetapi menjamin bahwa setiap rupiah anggaran memberikan dampak
            nyata bagi kesejahteraan rakyat.

                Pondasi  hukum  pelaporan  kinerja  di  Indonesia  dibangun
            untuk  menjamin  bahwa  prinsip  akuntabilitas  tidak  hanya
            menjadi slogan birokrasi,  tetapi  terimplementasi secara sistemik
            dan  berkesinambungan.  Ketentuan dasarnya tercantum dalam
            Pasal 55 ayat (5) Undang-Undang Nomor  1 Tahun 2004 tentang
            Perbendaharaan  Negara,  yang menegaskan kewajiban pemerintah
            untuk menyusun laporan keuangan dan  laporan  kinerja  sebagai
            bentuk pertanggungjawaban pengelolaan keuangan negara.
            Ketentuan  ini  kemudian  dijabarkan  melalui  Peraturan  Pemerintah
            Nomor 8 Tahun 2006 yang mengatur detail pelaporan keuangan dan
            kinerja instansi pemerintah sebagai satu kesatuan yang terintegrasi.
            Kerangka  implementasi teknisnya diperkuat dengan  Peraturan
            Presiden Nomor 29 Tahun 2014 tentang Sistem Akuntabilitas Kinerja
            Instansi Pemerintah (SAKIP) yang mengatur penetapan, pengukuran,
            pengelolaan data, dan pelaporan kinerja secara berjenjang di seluruh
            instansi pusat dan daerah. Pada tingkat teknis operasional, Peraturan
            Menteri PANRB Nomor 53 Tahun 2014 menjadi pedoman penyusunan
            perjanjian kinerja, pelaporan kinerja, serta tata cara reviu internal,
            sedangkan Peraturan Menteri PANRB Nomor 88 Tahun 2021 mengatur
            evaluasi akuntabilitas kinerja agar pelaksanaan SAKIP tetap terukur,
            adaptif, dan mendukung tata kelola pemerintahan yang transparan.
            Seluruh kerangka regulasi tersebut membentuk sistem akuntabilitas
            yang tidak hanya menilai pencapaian kinerja secara internal, tetapi
            juga menjamin adanya  reviu dan evaluasi berkelanjutan sebagai
            umpan balik untuk memperbaiki kebijakan,  mempertajam target,
            dan memperkuat perumusan anggaran pada periode berikutnya.
                Di dalam  birokrasi publik,  akuntabilitas  kinerja  diwujudkan
            melalui pembagian  peran  yang  jelas antara entitas  pelaporan dan
            entitas akuntabilitas. Struktur ini dirancang agar pertanggungjawaban
            kinerja tidak hanya  berhenti di  tingkat puncak kementerian atau
            lembaga, tetapi juga turun hingga  satuan  kerja dan unit-unit
            organisasi di daerah. Setiap tingkatan birokrasi memiliki tanggung
   351   352   353   354   355   356   357   358   359   360   361