Page 166 - ESSAI AGRARIA 22.indd
P. 166
Tidak hanya persoalan pendaftaran tanah, pelayanan
pertanahan pada tingkat desa juga dilakukan sebagai upaya
mencegah tingginya tingkat alih fungsi lahan pertanian. Dapat
diamati bahwa di setiap desa, lambat laun lahan pertanian terus
berkurang dan berubah menjadi non pertanian. Hal tersebut
dipengaruhi oleh beberapa faktor yang salah satunya adalah
mulai beralihnya pekerjaan petani secara turun temurun sehingga
masyarakat mengalihkan lahan sawahnya. Jarang sekali ditemui
anak muda di desa yang memilih petani sebagai pekerjaannya
karena dinilai kurang menguntungkan. Mereka lebih memilih
untuk merantau atau bekerja pada perusahaan. Sawah yang
didapat melalui proses waris pun sering kali akhirnya dimanfaatkan
sebagai rumah.
Ketidaktahuan masyarakat akan produk tata ruang seperti
Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dan Rencana Detail Tata
Ruang (RDTR) menjadi salah satu penyebab tingginya tingkat
alih fungsi lahan pertanian. Jika tidak segera diatasi, Indonesia
dapat mengalami krisis pangan karena minimnya lahan pertanian
produktif. Produk tata ruang memang sudah bisa diakses secara
digital melalui website seperti gistaru atau rdtr interaktif. Akan
tetapi, banyaknya website pemerintahan baik itu di bidang agraria
maupun bidang lain membuat masyarakat awam menjadi kurang
memperhatikan atau bahkan tidak tahu terhadap publikasi
pemerintah. Padahal, salah satu kegiatan penting dalam penerapan
produk tata ruang adalah pemantauan dan pengendalian lahan
yang selama ini sulit dilakukan oleh pemerintah karena luasnya
wilayah. Jika ada ahli pertanahan di tingkat desa, pemantauan
dan pengendalian lahan dapat dilakukan lebih optimal. Program
pertanahan dapat lebih dekat dan diketahui oleh masyarakat
melalui sosialisasi dan penyuluhan bahwa pengendalian lahan
berdasarkan produk tata ruang penting untuk dilakukan.
Peran Penting Pelayanan Pertanahan dan Tata Ruang 155
Secara Digital Dalam Penyelesaian Program Strategis Nasional