Page 12 - Menuju Penataan Ruang dan Pengelolaan Pertanahan yang Berkelanjutan dan Berkeadilan
P. 12

Problematika Pelaksanaan Pendaftaran Tanah Ulayat     3
                                             di Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat
                 Kedua,  terhadap tanah  Druwe Desa  (ditafsirkan sebagai
             tanah ulayat) di Bali disertipikatkan menjadi hak milik atas nama
             Desa  Pakraman  atau  Pura  melalui  proses  konversi hak  lama  atas
             tanah.  Surat Edaran Dirjen  Agraria Nomor:  DA-6980/III/2P/1983
             tentang Penyelesaian Permohonan Penegasan Hak  Atas  Tanah
             yang Berasal dari Tanah Adat, Peraturan Menteri ATR/Kepala BPN
             Nomor 10 Tahun 2016 tentang Tata Cara Penetapan Hak Komunal
             Atas Tanah Masyarakat Hukum Adat dan Masyarakat yang Berada
             Dalam Kawasan  Tertentu, Keputusan Menteri  Dalam Negeri  No.
             SK. 556/DJA/1986 tentang Penunjukan Pura Sebagai Badan Hukum
             Keagamaan yang Dapat Mempunyai Tanah dengan Hak Milik, dan
             Keputusan Menteri  ATR/Kepala BPN No. 276/Kep-19.2/X/2017
             tentang Penunjukan Desa Pakraman di Provinsi Bali Sebagai Subyek
             Hak Kepemilikan Bersama (Komunal) atas Tanah. Dengan demikian,
             keberadaan  tanah adat/ulayat  (tanah  druwe desa) di Bali “diakui”
             sebagai  hak  lama  atas  tanah,  sehingga  proses  pensertipikatannya
             menjadi hak milik yang subyeknya tetap komunal masyarakat adat,
             dalam hal  ini  atas nama lembaga  adatnya  yaitu  Desa Pakraman.
             Berarti praktik PTSL untuk tanah ulayat di Bali tidak sejalan dengan
             Pasal 9 PP Nomor 24 Tahun 1997.

                 Ketiga,  terhadap  tanah  ulayat di  Sumatera  Barat diproses
             menjadi beragam jenis hak atas tanah dan melalui pemberian hak
             dan/atau melalui proses konversi hak lama atas tanah dan beragam
             subyek hak  yaitu: 1)  Nama  dan kedudukan (selaku MKW  dalam
             kaum); 2) Nama, kedudukan (MKW)  dan nama  seluruh  anggota
             kaum; 3) Nama seluruh anggota kaum; 4) nama (satu orang) baik
             laki-laki atau perempuan. Berdasarkan Peraturan Daerah Provinsi
             Sumatera Barat Nomor 16  Tahun 2008  tentang  Tanah Ulayat  dan
             Pemanfaatannya,  sesungguhnya  keberadaan  tanah  ulayat sudah
             diakui yang jenisnya yaitu ulayat nagari, ulayat suku, ulayat kaum,
             dan ulayat rajo. Rupanya, masih sedikitnya tanah-tanah di Sumatera
             Barat terdaftar diduga karena otoritas pertanahan masih mengalami
             kesulitan dalam menentukan status bidang-bidang tanah yang sudah
             lama secara turun temurun dikuasai oleh masyarakat adat setempat,
             dan kesulitan dalam menentukan siapa subyek hak sesungguhnya,
   7   8   9   10   11   12   13   14   15   16   17