Page 110 - Melacak Sejarah Pemikiran Agraria Indonesia Sumbangan Pemikiran Mazhab Bogor
P. 110
Melacak Sejarah Pemikiran Agraria
Sementara itu, studi tentang populasi manusia telah menjadi
perhatian Rockefeller Foundation sebelum Perang dunia II. Pada
tahun 1946 muncul kritik tentang masalah populasi namun
dikaitkan dengan persoalan kesehatan. Kritik itu muncul dari
wakil John D. Rockefeller III, bagian Public Health Programs.
Dalam bidang kesehatan ini Rockefeller memberi dukungan
selama lebih dari 40 tahun. Inti kritiknya adalah jika proteksi
terhadap kesehatan semakin membaik, maka akan meningkatkan
daya tahan manusia sehingga mengakibatkan “massive increase in
the population” yang akan membahayakan bila “no prospects for
feeding the people”. Raymond Fosdick sebagai presiden yayasan
kala itu menyetujui gagasan tentang kesehatan publik dikaitkan
dengan peningkatan produksi pangan. Ia menyatakan,
“Saya senantiasa memiliki feeling bahwa negara seperti India selalu
dalam kondisi ‘vicious circle’. Anda memiliki populasi yang maha
besar namun dengan kondisi suplai pangan yang tidak mencukupi.
Konsekuensinya, Anda selalu menghadapi problem kekurangan gizi
dan kelaparan. Cara keluar dari itu adalah sistem pendidikan yang
memadai atau dengan meletakkan dasar kehidupan industrial”. 8
Gagasan itu bergulir di International Health Division (IHD)
melalui direkturnya George K. Strode. Kemudian pada Juni
1948, Strode melapor kepada Marshall C. Balfour, seorang dok-
ter yang cukup lama menjabat program luar negeri IHD untuk
menindaklanjutinya. Strode setuju atas draf rencana riset popu-
lasi yang akan dilakukan di Jepang, China, Formosa (Taiwan), Ja-
wa dan Filipina. Akhirnya tim riset berangkat dikepalai oleh
Frank Notestein atas biaya Rockefeller Foundation. 9
Hasil kunjungan ke Jepang, Taiwan, Korea, China, Indo-
nesia, dan Filipina antara September hingga Desember 1948 ber-
isikan bantahan tafsir Malthusian yang dinilai simplisistik. Tim
kemudian cenderung mengarah pada neo-Malthusian: jumlah
penduduk tinggi sebab angka mortalitas turun namun tidak pada
angka natalitasnya, sehingga perlu dilakukan kontrol kelahiran
8 Ibid., hal. 133.
9 Ibid., hal. 134.
57

