Page 113 - Melacak Sejarah Pemikiran Agraria Indonesia Sumbangan Pemikiran Mazhab Bogor
P. 113
Ahmad Nashih Luthfi
baru dalam proyek besar Revolusi Hijau. 14 Gagasan Malthus ber-
gema lagi dalam upaya pembangunan yang sebelumnya juga te-
lah dianut, misalnya oleh pemerintah kolonial di Jawa pada masa
Raffles. Satu gagasan yang mendukung dan berkesesuasian de-
ngan faham pembangunan (developmentalism) adalah menghidup-
kan aset yang mati (tanah) melalui land rent.
C. Revolusi Hijau di Asia Tenggara dan Dampaknya
Dalam pelaksanaan Revolusi Hijau, didirikan lembaga-lem-
baga riset pangan sesuai dengan komoditasnya. Di Meksiko didi-
rikan International Center for Maize and Wheat Improvement
(CIMMYT) pada tahun 1944. Atas bantuan Rockefeller Foun-
dation pusat penelitian jagung dan gandum ini didirikan.
Kesuksesan di Meksiko ditiru untuk tanaman padi. Maka
pada tahun 1962, Rockefeller Foundation bekerjasama dengan
Ford Foundation mendirikan sebuah badan penelitian bernama
International Rice Research Institute (IRRI) di Los Banos, Fili-
pina. Semula pendirian lembaga IRRI ditawarkan kepada Indo-
nesia dan diterima oleh Presiden Soekarno. Akan tetapi ketika
pihak Rockefeller dinilai banyak melakukan berbagai macam tun-
tutan yang sifatnya intervensif, Soekarno menolak dan menya-
takan bahwa Indonesia sebenarnya telah mampu melakukannya
sendiri tanpa IRRI. Saat itu Indonesia telah mempunyai ahli
pembenihan, Ir. Siregar, yang telah melakukan uji coba pem-
benihan di Lembaga Penelitian Benih, Bogor. 15
Lembaga di Bogor ini berada di bawah Departemen Per-
tanian dan Urusan Agraria. Beberapa tahun lembaga ini telah
14 Henry Bernstein, “Landreform: Taking A Long(er) View”, Journal of
Agrarian Change 2(4), 2002, hal. 445-446.
15 Wawancara dengan Sajogyo, Bogor, 21 November, 2008; dan wawancara
dengan Gunawan Wiradi, Bogor, 18 Juli 2008. Bandingkan dengan, Gunawan
Wiradi, “Revolusi Hijau Ditinjau Kembali”, Suara Pembaruan, 24 September,
1987.
60

