Page 111 - Melacak Sejarah Pemikiran Agraria Indonesia Sumbangan Pemikiran Mazhab Bogor
P. 111

Ahmad Nashih Luthfi


               (birth control). Tim selanjutnya beranjak pada kesimpulan bahwa
               jumlah penduduk semakin tinggi sehingga diperlukan food self-
               sufficiency, dan Jepang menjadi contoh bagaimana hal itu
               dilakukan dengan cara industrialisasi. 10
                   Masa inilah awal dari kejayaan developmentalisme, 11  dimana
               produksi pertanian di kawasan Selatan dibentuk melalui berbagai
               cara: proyek-proyek investasi kuasi-publik melalui aid agencies—
               terutama Bank Dunia, melalui strategi bantuan bahan makanan
               dan/dumping bahan makanan komersial dari kelebihan stok
               beras di Amerika.
                   Selain Rockefeller Foundation, lembaga donor internasional

               yang membiayai pelaksanaan revolusi Hijau adalah Bank Dunia
               (World Bank). Melalui hadirnya presiden baru, George Woods,
               Bank Dunia berpikir bahwa di sektor pertanian yang di dalamnya
               bekerja 2/3 dari kaum termiskin di dunia, ternyata hanya
               menerima 8% pinjaman sampai dengan tahun 1963. Dari pemi-
               kiran itulah George Woods kemudian mengeluarkan investasi
               khususnya pada riset pertanian, bekerja sama dengan Rockefeller

                   10  Ibid. Menurut Gunawan Wiradi, kesuksesan Jepang dalam masalah
               pangan bukan sebab loncatan industrialisasinya, namun industri mereka terlebih
               dahulu didasari pada upaya restrukturisasi penguasaan faktor produksi, yakni
               tanah, melalui landreform. Ketika Jepang kalah perang, panglima tentara Jendral
               Mac Arthur, Jr. yang bermarkas di Jepang segera menulis surat perintah pada
               kaisar Jepang, Hirohito, pada tanggal 9 Desember 1945. Surat berkode SCAP-
               411/1945 berisi perintah agar dalam jangka tiga bulan Jepang harus menyusun
               dan langsung melaksanakan program landreform. Demikian juga Korea Selatan
               dan Taiwan dalam pelaksanaan landreform yang dinilai berhasil atas dukungan AS
               (dalam paket bantuan Marshall Plan). Lihat, Gunawan Wiradi, Dilemma Reforma
               Agraria, makalah tidak diterbitkan (29 hal.), 2008, hal. 12.
                   11  Developmentalisme pada gilirannya menjadi ideologi yang sangat
               berpengaruh pasca Perang Dingin. Ide-ide “pembangunanisme” dikaji secara
               serius melalui munculnya Development Studies di universitas-universitas Inggris
               pada tahun 1960-an dan 1970-an. Apa yang dipelajari di dalamnya adalah applied
               knowledge dengan tujuan praktis agar dapat diterapkan sebagai kebijakan dan
               intervensi pembangunan di negara-negara berkembang. Dua isu yang dikaji
               adalah ekonomi pertumbuhan (bagaimana harus mempromosikannya), dan
               kemiskinan (bagaimana cara menanggulanginya). Henry Bernstein, Development
               Studies and The Marxists, dalam http://repositories.cdlib.org/cgirs/CGIRS-2004-8,
               diakses tanggal 23 Juli 2006.
               58
   106   107   108   109   110   111   112   113   114   115   116