Page 114 - Melacak Sejarah Pemikiran Agraria Indonesia Sumbangan Pemikiran Mazhab Bogor
P. 114
Melacak Sejarah Pemikiran Agraria
me-lakukan penelitian penyilangan dari berbagai benih unggul
guna menghasilkan varietas baru yang sesuai dengan iklim dan
kondisi tanah di Indonesia. Dari ujicoba itu lahirlah “Benih Pen-
djenis” yang kemudian digunakan sebagai benih dasar yang dita-
nam di beberapa lahan percobaan di Jawa dan Madura. Lembaga
tersebut pada gilirannya diminta oleh berbagai Dinas Pertanian
(Diperta) yang ada di daerah-daerah untuk memenuhi stok benih
pokok. Benih keluaran lembaga itu dinilai baik, dapat tumbuh
dengan cepat, subur, bebas gulma bawaan dan anti penyakit dan
serangga, dan mempunyai rasa yang enak. Surat kabar dan radio
terus menerus memberitakan keberhasilan penggunaan benih
tersebut yang oleh lembaga itu diperkirakan menghasilkan
kenaikan produksi 20-40%. 16
Benih yang dihasilkan dari lembaga di atas dikenal juga de-
ngan benih “Unggul Nasional” (Ungnas). Di antara nama-nama
Ungnas ini adalah ”Syntha”, ”Dara”, ”Sigadis”, ”Ramadja”, dan
”Bengawan”. Nama-nama ini merupakan hasil dari pengemba-
ngan varietas lokal. 17
Sementara itu, varietas padi baru produksi IRRI memberi
hasil yang jauh melebihi rata-rata hasil varietas lokal di sebagi-
an besar Asia. Benih baru adalah hasil dari persilangan antara
varietas padi kerdil dari Taiwan (Dee-geo-woogen) dengan varietas
padi jangkung dari Indonesia, yakni Peta. Peta adalah padi ung-
gulan yang diperkenalkan pada tahun 1940. Hasilnya adalah
sebuah varietas yang diberi nama resmi IR.8-288-3, biasa di-
singkat IR-8 (di Indonesia dikenal sebagai PB-8). Varietas baru
16 Joyce Gibson, “Rice Production and Import”, Bulletin of Indonesian
Economic Studies, No 1., Juni 1965, hal. 57-58.
17 Dibyo Prabowo dan Sajogyo, “Sidoarjo, East Java, and Subang, West
Java”, dalam Gary E. Hansen (Ed.), Agricultural and Rural Development in Indonesia
(Colorado: Westview Press, 1981), hal. 71. Kedua penulis melakukan riset
evaluasi pelaksanaan Revolusi Hijau di Sidoarjo dan Subang. Di lokasi pertama,
Revolusi Hijau mendapat respons yang tinggi, namun tidak di lokasi kedua.
61

