Page 2 - Janji di Ujung Jarak S1
P. 2

JANJI DI UJUNH JARAK





                   Perkenalan

                                     Aip Toni Firmansyah adalah siswa SMK Negeri Nusantara 1, salah satu sekolah favorit di
                   kota kecilnya. Meski berusia 19 tahun, ia masih berada di tahun terakhir pendidikannya karena
                   keputusan yang ia buat bertahun-tahun lalu mengulang kelas demi menemani adik kesayangannya,
                   Dina, saat SD. Kini, Aip dan Dina bersekolah di tempat yang berbeda, namun ikatan mereka tetap
                   kuat.
                   Seperti  kebanyakan  anak  muda,  Aip  sering  menggunakan  media  sosial  untuk  mengisi  waktu
                   luangnya.  Facebook  menjadi  tempatnya  berbagi  cerita  kecil,  mengunggah  foto,  dan  menjalin
                   pertemanan baru. Pada suatu sore, ia menerima permintaan pertemanan dari seseorang bernama
                   Asep Ivan Prayoga. Asep adalah alumni SMK Bintang Harapan 2, sekolah yang tak jauh dari tempat
                   Aip  belajar.  Dari  profilnya,  Asep  tampak  sebagai  sosok  yang  ramah  dan  sederhana,  dengan
                   beberapa foto dirinya tersenyum hangat di bawah seragam sekolah. Entah mengapa, wajah di foto
                   itu membuat Aip penasaran. Tanpa pikir panjang, Aip menerima permintaan itu. Namun, selama
                   beberapa  hari,  interaksi  mereka  hanya  sebatas  itu,  hingga  suatu  malam  ketika  hujan  deras
                   mengguyur luar jendela kamarnya, Aip memutuskan untuk memulai percakapan.

                   Aip: "Halo, Asep ya? Aku Aip, makasih udah add aku."

                   Pesan itu terlihat biasa saja, tetapi jantung Aip berdebar saat menunggu balasan. Ia terus-menerus
                   memeriksa layar ponselnya, berharap tanda typing... muncul. Tak lama kemudian, sebuah balasan
                   tiba.

                   Asep: "Iya, sama-sama. Salam kenal, Aip. Kamu anak SMK Nusantara 1, kan?"
                   Aip: "Iya, hehe. Kamu alumni SMK Bintang Harapan 2 ya? Aku sering dengar sekolahmu terkenal
                   sama tim futsalnya."
                   Asep: "Iya bener, tapi aku nggak ikut futsal sih. Aku cuma sering bantu-bantu jadi supporter aja
                   waktu lomba. Kamu sendiri kelas berapa sekarang?"

                   Pertanyaan sederhana itu entah mengapa membuat hati Aip terasa hangat. Ia mengetik dengan
                   cepat.

                   Aip: "Aku kelas XII. Harusnya sih udah lulus tahun kemarin, tapi ya ada alasan pribadi, hehe. Kamu
                   sekarang lagi sibuk apa?"
                   Asep: "Lagi cari kerja, sebenarnya. Baru aja lulus, jadi masih bingung mau kemana. Kalau nggak
                   dapet, ya mungkin rencana cadangan kuliah tahun depan."
                                     Percakapan itu terus mengalir. Asep mulai bertanya lebih banyak tentang sekolah Aip,
                   rutinitasnya,  bahkan  hal-hal  kecil  seperti  makanan  favorit  di  kantin.  Semakin  lama  mereka
                   berbicara, semakin Aip merasa bahwa Asep bukan sekadar teman biasa.
                   Malam-malam  berikutnya,  percakapan  mereka  menjadi  rutinitas  baru.  Asep  selalu  memulai
   1   2   3   4   5   6   7