Page 4 - Janji di Ujung Jarak S1
P. 4

masih dikelas XII, kenapa kamu nggak lulus bareng teman-temanmu?"
                   Aip: "Hehe, panjang ceritanya. Waktu SD, aku sengaja ngulang kelas biar bisa satu kelas sama
                   adikku. Nggak pengen dia sendirian waktu itu."
                   Asep: "Serius? Wah, hebat banget. Kamu beneran sayang sama adikmu ya. Aku nggak yakin bisa
                   ngelakuin hal yang sama kalau jadi kamu."
                   Kalimat itu membuat Aip tersenyum lebar. Ia tidak pernah menganggap keputusan masa kecilnya
                   istimewa, tetapi cara Asep memujinya membuatnya merasa dihargai dengan cara yang tak pernah
                   ia rasakan sebelumnya.
                   Semakin  sering  mereka  berbicara,  semakin  besar  rasa  ingin  tahu  Aip  tentang  Asep.  Ia  mulai
                   memperhatikan detail kecil dalam percakapan mereka Aip Selalu    menanyakan apa Asep sudah
                   makan  atau  belum,  bagaimana  Asep  bercerita tentang  perjuangannya mencari  pekerjaan, dan
                   bagaimana ia selalu punya waktu untuk membalas pesan meski sibuk.

                   Aip: "Sep, aku kadang heran, kok kamu sabar banget sih? Nggak bosen ya chat sama aku terus?"
                   Asep: "Kenapa harus bosen? Kamu asik kok diajak ngobrol. Malah kadang aku mikir, kalau nggak
                   ada kamu, malamku bakal sepi banget."
                   Kata-kata itu membuat jantung Aip berdetak lebih cepat dari biasanya. Ia tak pernah menyangka
                   seseorang bisa membuatnya merasa sepenting ini.

                   Namun, di balik kebahagiaan itu, Aip mulai merasa gelisah. Ia sadar, perasaannya terhadap Asep
                   mungkin lebih dari sekadar pertemanan. Tapi, ia tidak tahu bagaimana harus menyikapinya. Setiap
                   malam, ia bertanya pada dirinya sendiri: Apa yang Asep pikirkan tentang aku? Apakah dia juga
                   merasa seperti ini?
                   ---
                   Suatu hari, Aip mencoba untuk mengungkapkan rasa terima kasihnya dengan cara yang berbeda.
                   Ia mengirim pesan yang sedikit lebih personal.

                   Aip: "Eh, Sep, aku seneng banget bisa kenal kamu. Kalau nggak ada kamu, kayaknya aku bakal bosen
                   banget tiap malam."
                   Asep: "Serius? Wah, aku juga seneng banget kenal kamu. Rasanya aneh ya, padahal kita belum
                   pernah ketemu langsung."
                   Aip: "Iya. Tapi aku ngerasa kayak udah kenal kamu lama banget."
                   Asep: "Sama, Aip. Kamu tuh kayak temen yang selalu bikin aku ngerasa lebih baik. Makasih ya."

                   Percakapan  itu  sederhana,  tetapi  bagi  Aip,  setiap  kata  dari  Asep  adalah  pengakuan  yang  ia
                   harapkan,  meski  dalam  bentuk  yang  samar.  Malam-malam  berikutnya,  Aip  mulai  memikirkan
                   sesuatu: Haruskah aku mengajaknya bertemu?
                   Keinginan untuk Bertemu


                                     Percakapan Aip dan Asep terus berlangsung setiap malam, menjadi semacam rutinitas
                   yang tak pernah gagal membuat Aip merasa lebih hidup. Bahkan ketika hari-hari di sekolah terasa
                   berat dengan tugas-tugas yang menumpuk, Aip selalu memiliki energi untuk membalas pesan Asep.

                   Malam itu, hujan turun dengan deras di luar jendela kamar Aip. Suara rintik hujan menjadi latar
   1   2   3   4   5   6   7   8   9