Page 9 - Janji di Ujung Jarak S1
P. 9

“Pegangan di sini aja, biar lebih hangat,” kata Asep sambil tersenyum, meski matanya fokus ke jalan.
                   Aip membeku sejenak, darahnya berdesir kencang. Tangannya kini melingkari pinggang Asep, dan
                   tubuh mereka semakin dekat. Seolah-olah jarak yang selama ini hanya bisa dijembatani oleh kata-
                   kata kini benar-benar hilang.
                   Jantung Aip berdebar kencang, tetapi ia tak bisa menolak kenyamanan yang ia rasakan. Angin
                   malam terus berembus, tetapi hangatnya tubuh Asep terasa seperti perlindungan yang tak ingin ia
                   lepaskan.
                   Mereka berdua terdiam cukup lama, hanya ditemani suara mesin motor dan semilir angin. Namun,
                   keheningan itu tidak lagi canggung. Ada sesuatu yang tumbuh di antara mereka—sesuatu yang tak
                   terucap, tetapi begitu nyata.
                   Setelah beberapa menit, Asep membuka suara, suaranya pelan namun penuh makna.
                   “Aip,” panggilnya tanpa menoleh.
                   “Hm?” sahut Aip, hampir berbisik.
                   “Aku nggak mau malam ini jadi malam terakhir kita ketemu,” kata Asep, suaranya berat dan serius.
                   “Aku seneng bisa bareng kamu. Rasanya… beda aja.”
                   Perkataan itu membuat dada Aip terasa sesak sekaligus hangat. Ia menggigit bibir, menahan emosi
                   yang  hampir  meluap.  Kata-kata  itu sederhana,  tetapi menyiratkan  harapan dan  perasaan  yang
                   sama-sama mereka sembunyikan.
                   “Sep…” Aip mencoba bicara, tetapi suaranya tercekat. Ia tak tahu harus merespons bagaimana.
                   Asep melanjutkan, “Kalau kamu mau, kita bisa sering ketemu. Nggak cuma malam ini. Aku pengen
                   kenal kamu lebih jauh.”
                   Aip menundukkan kepala, menyembunyikan senyum yang perlahan terbentuk di wajahnya. Rasa
                   bahagia memenuhi seluruh hatinya. Ia tak pernah menyangka Asep akan mengatakan hal itu—
                   sebuah pengakuan kecil yang menghapus sebagian besar keraguannya.
                   “Iya, aku juga mau, Sep,” jawab Aip akhirnya, suaranya bergetar.
                   Mereka melaju perlahan, seolah sengaja menikmati waktu yang berjalan lebih lambat malam itu.
                   Motor melintas di bawah bayang-bayang pohon, lampu jalan menerangi mereka sesekali. Di jalan
                   yang sepi itu, mereka berbagi kehangatan dalam keheningan yang indah.
                   Aip tahu bahwa malam itu adalah awal dari sesuatu yang lebih besar, sesuatu yang mungkin tidak
                   mudah mereka jalani, tetapi ia rela menjalaninya selama ada Asep di sisinya.
                   Dan untuk pertama kalinya, ia membiarkan dirinya berharap.
                   ---

                   Perpisahan yang Penuh Makna

                                     Motor Asep berhenti perlahan di depan gang rumah Aip. Malam semakin larut, hanya
                   suara  jangkrik  dan  desiran  angin  yang  terdengar.  Lampu  teras  rumah  Aip  masih  menyala,
                   memberikan cahaya hangat yang menyelimuti halaman kecilnya.
                   Aip turun dari motor dengan perlahan. Ia melepas helm dan menyerahkannya kembali pada Asep.
                   Jaket abu-abu milik Asep masih melingkar di bahunya, memberikan kehangatan yang enggan ia
                   lepaskan.
                   “Udah sampai, nih,” kata Asep sambil meletakkan helm di setang motor. Suaranya lembut, tetapi
                   ada nada enggan di dalamnya.
                   “Iya,” jawab Aip pelan, menundukkan kepala sambil tersenyum tipis. “Makasih udah nganterin aku
                   pulang, Sep. Makasih juga buat malam ini.”
   4   5   6   7   8   9   10   11   12   13   14