Page 11 - Janji di Ujung Jarak S1
P. 11
menemukan pesan dari Asep yang selalu lebih dulu mengucapkan selamat pagi.
Asep: "Pagi, Aip! Jangan lupa sarapan ya. "
Aip: "Pagi juga, Sep! Kamu juga jangan lupa makan. Hehe."
Percakapan sederhana seperti itu menjadi bagian dari rutinitas mereka. Di sekolah, saat teman-
temannya sibuk dengan tugas dan obrolan tentang masa depan, Aip sering kali tersenyum sendiri
saat membaca pesan Asep. Hatinya selalu terasa hangat, seolah ada sesuatu yang terus menyala
di dalam dirinya.
Setiap malam, mereka masih menghabiskan waktu untuk mengobrol di WhatsApp, membahas hal-
hal sepele, bercanda, dan terkadang, saling memberikan dukungan ketika hari terasa melelahkan.
Meski belum ada kejelasan di antara mereka, Aip merasa sudah cukup hanya dengan merasakan
kehadiran Asep dalam hidupnya.
---
Ajakan untuk Bertemu Lagi
Beberapa minggu berlalu sejak pertemuan pertama mereka. Suatu malam, ketika Aip
sedang belajar di kamarnya, ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari Asep muncul di layar.
Asep: "Aip, minggu ini mau jalan lagi nggak? Makan seblak bareng kayak kemarin?"
Aip membaca pesan itu sambil tersenyum lebar. Jantungnya berdebar kencang, bukan karena
seblak, tetapi karena ia tahu maksud Asep bukan hanya sekadar makan seblak.
Aip: "Boleh, Sep! Hari apa enaknya?"
Asep: "Sabtu malam, gimana? Aku jemput kamu lagi, ya?"
Aip: "Iya, aku tunggu ."
---
Malam Kedua: Makan Seblak dan Momen yang Hangat
Sabtu malam tiba. Asep kembali menjemput Aip di depan rumahnya. Sama seperti
sebelumnya, Aip mengenakan jaket abu-abu milik Asep yang masih ia simpan. Kali ini, suasana lebih
nyaman. Tak banyak kata yang mereka ucapkan di perjalanan, tetapi keheningan itu terasa
menyenangkan.
Setibanya di warung seblak, mereka memilih meja di pojok yang agak sepi. Asep memesan seblak
dengan level pedas favoritnya, sementara Aip tetap memilih level satu.
“Masih nggak berani naik level?” goda Asep sambil tertawa kecil.
Aip menggeleng sambil tertawa. “Nggak, deh. Nanti bisa-bisa aku nangis.”
Asep tersenyum sambil mengaduk seblaknya. Suasana malam itu terasa lebih intim. Meski warung
dipenuhi beberapa pengunjung, dunia seakan hanya milik mereka berdua.
Ketika mereka mulai makan, Asep menatap Aip yang sedang meniup seblaknya perlahan, takut
kepedasan. Sebuah ide nakal muncul di benaknya. Ia menyendok seblak dari mangkuknya dan
menyodorkannya ke depan mulut Aip.
“Nih, cobain seblakku. Biar tahu rasanya,” ujar Asep sambil tersenyum penuh arti.
Aip menatap Asep dengan mata membesar. “Di sini, Sep? Nanti dilihat orang.”
Asep menoleh ke kanan dan kiri, memastikan tak ada yang memperhatikan. “Udah, nggak ada yang
lihat. Cepetan sebelum ketahuan,” katanya sambil tertawa pelan.
Dengan pipi memerah, Aip membuka mulutnya dan membiarkan Asep menyuapinya. Rasa pedas
langsung meledak di lidahnya, tetapi rasa hangat di hatinya jauh lebih kuat. Ia buru-buru meminum