Page 16 - Janji di Ujung Jarak S1
P. 16
Asep mematikan mesin motor, lalu mereka berdua berjalan menuju salah satu bangku taman. Aip
duduk terlebih dahulu, diikuti oleh Asep yang duduk di sampingnya, menjaga jarak yang tidak
terlalu dekat, tetapi juga tidak jauh.
Hening kembali menyelimuti mereka. Aip menundukkan kepala, memandang tangannya yang
saling menggenggam di pangkuannya. Asep menghela napas panjang, lalu akhirnya membuka
suara.
“Aip… Aku minta maaf,” ucap Asep dengan suara bergetar. “Aku sadar, waktu itu aku
kebablasan. Aku nggak pengen bikin kamu nggak nyaman.”
Aip menggigit bibirnya, lalu menoleh ke arah Asep. Matanya yang lembut menatap penuh keraguan,
tetapi juga kejujuran.
“Sep, aku nggak marah kok. Aku cuma… kaget,” ujar Aip pelan. “Aku seneng sama kamu, tapi
aku juga takut kalau ini salah.”
Asep menunduk, jari-jarinya menggenggam ujung celana jeansnya. “Aku ngerti, Aip. Aku juga
bingung sama perasaan ini. Tapi satu hal yang pasti, aku nggak mau kehilangan kamu.”
Kata-kata itu menusuk hati Aip. Ia merasakan kehangatan sekaligus kesedihan yang bercampur jadi
satu. Hatinya berdebar, tetapi juga terasa berat.
“Aku juga nggak mau kehilangan kamu, Sep,” jawab Aip dengan suara hampir berbisik. “Aku
cuma pengen kita pelan-pelan. Aku takut kalau kita terburu-buru, semuanya bakal berantakan.”
Asep menatap Aip, matanya memancarkan kejujuran yang sama. Ia mengangguk pelan, senyumnya
tipis. “Aku janji bakal lebih sabar. Kita jalanin ini satu langkah demi satu langkah, ya?”
Aip membalas senyum itu. “Iya, Sep. Kita pelan-pelan aja.”
Asep meraih tangan Aip dengan lembut, menggenggamnya di antara kedua telapak tangannya.
“Makasih udah mau ketemu aku hari ini. Aku nggak mau kita kayak kemarin, saling canggung.”
Aip mengangguk, matanya mulai berkaca-kaca. “Aku juga nggak mau gitu lagi, Sep.”
Mereka duduk di sana untuk beberapa saat, hanya menikmati kebersamaan tanpa banyak kata.
Angin sore berhembus lembut, membawa harapan baru untuk mereka berdua.
---
Perpisahan yang Berat
Langit mulai gelap, bintang-bintang bertebaran menghiasi malam. Cahaya remang dari
lampu taman menerangi wajah Aip dan Asep yang masih duduk di bangku taman. Suasana hening
menyelimuti mereka, namun waktu terus berjalan. Aip memandang arlojinya, menyadari hari
sudah cukup larut.
“Asep, udah malam. Kita pulang, yuk?” suara Aip terdengar lembut namun penuh keraguan.
Asep mengangguk. “Iya, ayo.”
Mereka berjalan kembali menuju motor. Aip naik terlebih dahulu, lalu Asep menyalakan mesin
motor. Saat motor mulai melaju di jalanan sepi, Asep merasa suasana masih diselimuti ketegangan
tipis. Ia ingin memecah kebekuan itu, ingin mengembalikan kehangatan yang sempat pudar.
“Eh, Aip,” panggil Asep sambil melirik ke belakang sebentar. “Kamu tau nggak?”
“Hm? Tau apa?” tanya Aip, suaranya terdengar hati-hati.
“Kamu keliatan makin manis kalau senyum. Udah lama nggak lihat senyum kamu yang lebar itu,”
goda Asep sambil tersenyum kecil.
Aip menggigit bibirnya, menahan senyum yang hampir muncul. “Ah, kamu bisa aja, Sep.”