Page 20 - Janji di Ujung Jarak S1
P. 20
Air mata langsung membasahi pipi Aip. Ia menutup mulutnya dengan tangan, berusaha menahan
isakan yang ingin pecah. Setelah sekian lama, akhirnya pesan yang ia tunggu-tunggu datang juga.
Hatinya terasa lega sekaligus penuh dengan emosi yang bercampur aduk.
Dengan cepat, Aip membalas pesan itu.
Aip: “Serius, Sep? Kamu beneran pulang?”
Asep: “Iya, aku janji. Aku nggak akan ngecewain kamu lagi.”
Aip menatap layar ponsel dengan mata berkaca-kaca. Sebuah senyum perlahan terbentuk di
wajahnya. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, hatinya merasa penuh harapan.
Malam itu, Aip tidur dengan perasaan yang berbeda. Kerinduan yang selama ini menyiksanya kini
terasa lebih ringan. Dalam hati, ia berbisik, “Akhirnya… kamu pulang, Sep.”
Di tempat lain, Asep duduk di kamarnya yang sempit di perantauan, memandang tiket pulang yang
ia genggam. Hatinya penuh rasa bersalah dan kerinduan yang sama besar. Ia menatap langit malam
dari jendela dan berbisik, “Tunggu aku, Aip. Aku bakal nepatin janji.”
---
Kembalinya Asep dan Rasa yang Berbeda
Hari yang dinanti-nanti akhirnya tiba. Aip duduk di kamarnya sambil menggenggam ponsel.
Hatinya berdebar-debar. Pikirannya penuh dengan bayangan tentang pertemuannya dengan Asep.
Setelah sekian lama menunggu, akhirnya pesan dari Asep datang.
Asep: "Aip, aku udah di rumah. Kamu sibuk nggak? Aku pengen ketemu."
Aip tersenyum tipis. Tanpa berpikir panjang, ia segera membalas.
Aip: "Nggak sibuk, Sep. Mau ketemu di mana?"
Asep: "Aku jemput habis Magrib, ya. Siap-siap!"
Aip merasa jantungnya berdebar kencang. Kerinduan yang selama ini ia pendam perlahan mulai
terobati. Ia menyiapkan diri sebaik mungkin, mengenakan kaus favorit dan jaket abu-abu yang
pernah Asep pinjamkan dulu.
---
Pertemuan yang Dinanti
Selepas Magrib, suara motor terdengar di depan rumah Aip. Ia keluar dan melihat Asep
sudah menunggu. Wajah Asep yang familiar itu tersenyum kecil, namun ada sesuatu yang berbeda
di mata dan raut wajahnya. Aip mengabaikan perasaan aneh itu dan tersenyum lebar.
“Sep!” panggil Aip dengan suara ceria.
“Aip!” balas Asep, namun dengan nada yang lebih datar dari biasanya. “Cepetan naik, udah
lama aku nunggu, nih.”
Aip mengangguk dan naik ke motor, memegang ujung jaket Asep seperti biasa. Motor melaju pelan
menyusuri jalanan malam yang ramai.
Sepanjang perjalanan, mereka bercanda seperti dulu, tetapi Aip merasakan ada yang berbeda dari
cara Asep bicara. Terkadang, Asep berbicara dengan nada yang sedikit arogan, seolah-olah ingin
menunjukkan sesuatu.
“Jalanan di sini masih sama aja ya, macet dan sempit,” keluh Asep sambil menghela napas. “Di
Jakarta sih beda banget. Lebih rame, tapi jalannya lebih lebar.”
Aip hanya tersenyum kecil. “Iya, pasti beda, ya.”
“Iya lah. Di sana orang-orangnya lebih profesional. Nggak kayak di sini, banyak yang cuma bisa
omong doang,” lanjut Asep, suaranya terdengar sombong.