Page 25 - Janji di Ujung Jarak S1
P. 25
Manisnya Gula Kapas
Ketika mereka melewati alun-alun kota, mata Aip tiba-tiba menangkap sesuatu yang
membuatnya berseru kecil.
“Sep, lihat!” Aip menunjuk ke arah seorang pedagang gula kapas di pinggir jalan.
Asep melirik ke arah yang ditunjuk Aip dan tersenyum lebar. “Mau beli gula kapas?”
Aip mengangguk antusias. “Iya, boleh ya?”
Asep tertawa kecil dan menarik motornya ke pinggir jalan. “Boleh banget. Yuk!”
Mereka turun dari motor dan berjalan beriringan menuju pedagang gula kapas. Wajah Aip berbinar,
seperti anak kecil yang menemukan harta karun. Asep memperhatikan raut wajah Aip dan tak bisa
menahan senyumnya.
“Aip, kamu suka banget ya sama gula kapas?” tanya Asep sambil tersenyum.
Aip tertawa kecil. “Iya. Entah kenapa, gula kapas selalu bikin aku inget masa kecil.”
Asep terkekeh. “Ya ampun, sederhana banget sih, kamu.”
Ketika pedagang memberikan gulungan gula kapas berwarna merah muda, Aip merogoh saku
celananya untuk membayar. Namun, sebelum uang itu keluar, Asep langsung menyela.
“Pak, ambil uang saya aja,” kata Asep sambil menyodorkan uangnya.
Aip menoleh kaget. “Sep, kenapa kamu…”
Asep menatap Aip lembut. “Udah, biar aku aja. Kamu udah bikin hariku manis, masa aku nggak
bikin harimu manis juga?”
Hati Aip menghangat mendengar kata-kata itu. Ia tersenyum lebar, matanya berbinar. “Makasih,
Sep.”
“Nggak cuma itu.” Asep melirik beberapa camilan lain di gerobak, lalu membeli kacang rebus dan
jagung manis. “Buat kamu ngemil di rumah nanti.”
Aip tertawa senang. “Kamu baik banget.”
Asep mengedipkan mata sambil tersenyum nakal. “Udah tugas aku bikin kamu seneng.”
---
Perjalanan Menuju Pulang
Mereka kembali ke motor dengan tangan Aip penuh camilan. Begitu motor melaju,
suasana kembali dipenuhi canda tawa.
“Sep, jangan ngebut, gula kapasnya bisa terbang!” seru Aip sambil tertawa.
Asep tertawa keras. “Kalau terbang, kita balik lagi beli satu karung!”
“Aku jadi pengen liat kamu makan gula kapas,” goda Aip.
“Wah, nggak keren banget kayaknya kalau cowok makan gula kapas,” jawab Asep sambil pura-pura
mengeluh.
Aip tertawa lebih keras. “Nggak apa-apa, yang penting lucu!”
Asep tersenyum dan menggoda lagi. “Tapi yang lucu itu kamu, bukan aku.”
Aip merasa pipinya memanas. “Ah, kamu bisa aja.”
Motor terus melaju perlahan, membiarkan momen kebahagiaan ini berlangsung lebih lama. Hati
Aip terasa penuh, seolah semua keraguan dan kesedihan sebelumnya telah tergantikan oleh
kehangatan yang ia rindukan selama ini.
---
Perpisahan yang Menyayat Hati