Page 27 - Janji di Ujung Jarak S1
P. 27
---
Tangisan di Balik Pintu
Dengan langkah gontai, Aip masuk ke rumah dan menutup pintu perlahan. Begitu pintu
tertutup, ia tak lagi mampu menahan tangisnya. Isakannya pecah di tengah keheningan rumah. Ia
bersandar di pintu, membiarkan air mata jatuh tanpa henti.
Ia berjalan menuju kamarnya, lalu menjatuhkan diri di atas tempat tidur. Tangannya menggenggam
erat selimut, mencoba menenangkan gejolak hatinya.
“Sep… aku nggak mau berpisah,” bisik Aip di antara isakannya. “Kenapa harus seberat ini?”
Air matanya terus mengalir, membasahi bantalnya. Hatinya dipenuhi berbagai pertanyaan yang tak
mampu ia jawab. Apa semuanya akan baik-baik saja? Apa kita bisa terus seperti ini?
Namun di tengah tangisnya, Aip menguatkan dirinya. Ia menarik napas dalam-dalam dan berbisik
pada dirinya sendiri, “Aku akan sabar menunggu. Aku percaya sama kamu, Sep.”
Di tempat lain, di atas motor yang melaju menjauh, Asep menahan air mata di balik helmnya.
Pikirannya dipenuhi bayangan Aip, senyum dan air mata yang tak akan pernah ia lupakan.
“Aku bakal pulang, Aip. Aku janji,” gumamnya pelan, seakan berharap angin akan menyampaikan
pesan itu pada Aip.
---
Perhatian Terakhir Sebelum Berpisah
Langit sore mulai memerah. Aip duduk di tepi tempat tidurnya, menatap layar ponselnya
dengan hati yang masih terasa berat. Setelah menangis cukup lama, ia memutuskan untuk
mencoba mengalihkan pikirannya. Ia ingat bahwa ia membutuhkan jas untuk keperluan sekolah
besok. Di tengah kesedihannya, ia teringat Asep.
Dengan tangan gemetar, Aip mengetik pesan untuk Asep.
Aip: “Sep, kamu punya jas nggak? Aku butuh untuk acara sekolah. Mau pinjam sebentar sebelum
kamu pergi.”
Tak lama kemudian, ponselnya bergetar.
Asep: “Iya, ada kok. Kamu butuh sekarang?”
Aip: “Iya. Tapi aku yang ambil, ya? Kita ketemu di tengah jalan aja biar kamu nggak repot.”
Asep: “Nggak usah, Aip. Nanti aku siapin dulu.”
Aip menghela napas panjang. Ia merasa tak enak jika harus membuat Asep repot, tetapi ia juga tak
ingin melewatkan kesempatan terakhir untuk melihat Asep sebelum perpisahan yang lebih lama.
Aip: “Nanti aku berangkat, ya.”
Asep: “Iya. Hati-hati.”
Aip bangkit dari tempat tidur, menghapus sisa air matanya, dan merapikan penampilannya. Dengan
langkah penuh keraguan, ia berjalan keluar rumah. Namun, begitu membuka pintu, hatinya
tersentak.
Asep berdiri di sana, jas tergantung di lengannya, dengan senyum tipis yang penuh kelembutan.
Wajahnya sedikit lelah, tetapi matanya tetap memancarkan perhatian yang tulus.
“Asep?” Aip terkejut. “Kok kamu di sini?”
Asep mengangkat bahu kecil, senyumnya tak pudar. “Ngapain harus ketemu di tengah jalan kalau
aku bisa langsung ke sini? Aku nggak mau kamu capek.”
Aip menggigit bibirnya, matanya kembali berkaca-kaca. “Tapi kan… kamu udah capek seharian.”
Asep mendekat, menyerahkan jas itu ke tangan Aip. “Capeknya hilang kok kalau lihat kamu.”