Page 23 - Janji di Ujung Jarak S1
P. 23
ia bangun, semuanya akan membaik.
---
Kembali Seperti Dulu
Pagi-pagi sekali, suara notifikasi ponsel membangunkan Aip dari tidur yang tidak nyenyak.
Dengan mata yang masih sedikit bengkak, ia meraih ponselnya dan melihat pesan dari Asep.
Asep: "Pagi, Aip! Kamu sibuk nggak hari ini? Aku pengen ketemu jam 9 pagi. Ada yang mau aku
omongin."
Jantung Aip berdetak lebih cepat. Keraguan dan harapan bercampur menjadi satu. Ia menarik
napas dalam-dalam sebelum membalas.
Aip: "Pagi, Sep. Nggak sibuk kok. Ketemu di mana?"
Asep: "Aku jemput kamu aja. Jam 9 ya, siap-siap!"
Aip tersenyum kecil, meski hatinya masih penuh dengan tanya. Apa semuanya akan baik-baik saja
kali ini? pikirnya.
---
Pertemuan yang Dinanti
Tepat pukul 9 pagi, suara motor Asep terdengar dari halaman depan. Aip keluar dengan
hati yang masih ragu. Namun, saat melihat Asep turun dari motor dan tersenyum hangat seperti
dulu, hatinya terasa lega. Senyum itu—senyum yang selalu membuatnya merasa nyaman—
akhirnya kembali.
“Pagi, Aip!” sapa Asep dengan nada ceria, matanya berbinar seperti sebelumnya.
“Pagi, Sep,” jawab Aip, senyum tipis muncul di wajahnya.
“Ayo, kita jalan!” Asep memasangkan helm ke kepala Aip dengan lembut. “Hari ini aku pengen
ngobrol lama sama kamu.”
Aip naik ke motor, dan kali ini, ia tidak ragu untuk memegang pinggang Asep. Mereka melaju
menuju taman dekat terminal. Angin pagi yang sejuk membelai wajah mereka, membawa suasana
yang lebih ringan. Semua terasa seperti dulu lagi.
---
Di Taman yang Teduh
Mereka duduk di bangku taman di bawah pohon besar yang rindang. Suara kendaraan dari
terminal terdengar samar-samar, tetapi di sini, dunia seolah hanya milik mereka berdua. Asep
menatap Aip dengan mata yang penuh penyesalan dan ketulusan.
“Aip…” ujar Asep, memecah keheningan. “Aku minta maaf soal kemarin. Aku sadar aku banyak
berubah.”
Aip menatap Asep dengan mata lembut. “Nggak apa-apa, Sep. Aku ngerti kamu capek dan banyak
pikiran.”
Asep menggeleng. “Bukan cuma capek, Aip. Aku terlalu sombong sama kamu. Padahal, kamu
yang selalu ada buat aku. Aku nggak mau kamu mikir kalau aku berubah.”
Aip tersenyum tipis. “Aku cuma takut kehilangan kamu, Sep.”
Asep meraih tangan Aip dan menggenggamnya erat. Sentuhan itu hangat, menghapus jarak yang
sempat terbentuk di antara mereka.
“Kamu nggak bakal kehilangan aku,” ucap Asep dengan suara bergetar. “Besok aku harus balik
lagi kerja, tapi aku janji, aku bakal selalu inget kamu. Aku bakal selalu usaha buat kita.”
Air mata mulai menggenang di mata Aip. “Aku percaya, Sep. Aku bakal sabar nunggu kamu pulang