Page 6 - Janji di Ujung Jarak S1
P. 6

Malam itu, setelah salat Magrib, Aip berdiri di depan cermin kamarnya. Ia merapikan
                   kaus biru muda yang ia kenakan, memastikan rambutnya terlihat rapi, meski tangannya sedikit
                   gemetar. Lampu-lampu jalan mulai menyala di luar sana, memantulkan cahaya lembut ke jendela
                   kamarnya. Pikirannya dipenuhi rasa gugup, tetapi juga penuh harap.
                   Ponselnya bergetar di atas meja. Pesan dari Asep muncul.
                   Asep: "Aku udah di dekat gang rumahmu. Katanya rumahmu ada pohon mangga di depannya,
                   kan?"
                   Aip: "Iya, bener. Itu aku udah di depan, pake kaus biru."
                   Dengan  napas  yang  ditahan,  Aip  melangkah  keluar  rumah.  Udara  malam  terasa  sejuk,  angin
                   berembus  perlahan,  membawa  aroma  tanah basah  setelah  hujan  sore  tadi.  Di  ujung  gang,  ia
                   melihat sosok Asep berdiri di samping motor hitamnya, mengenakan jaket abu-abu dan helm yang
                   belum ia kenakan.
                   Ketika mata mereka bertemu, Asep tersenyum lebar.  “Eh, Aip! Udah siap?”  tanyanya sambil
                   melambaikan tangan.
                   Aip tersenyum kecil, berusaha menyembunyikan kegugupannya.  “Iya, udah siap.”
                   Asep membuka helm dan menyodorkannya pada Aip.  “Pake ini, ya. Biar aman.”
                   Aip mengangguk pelan, menerima helm itu dan memakainya. Hatinya berdebar semakin kencang
                   ketika ia naik ke motor dan duduk tepat di belakang Asep. Jarak mereka begitu dekat, hingga Aip
                   bisa mencium samar aroma parfum Asep yang segar.

                   “Pegangan, ya,”ujar Asep sambil menyalakan mesin motor. Suara mesinnya menggema di antara
                   keheningan malam.
                   Aip ragu sejenak, kemudian tangannya perlahan memegang ujung jaket Asep. Sentuhan kecil itu
                   membuat wajahnya memanas, tetapi ia berusaha tetap tenang. Motor mulai melaju perlahan,
                   meninggalkan gang sempit dan memasuki jalanan yang sedikit ramai.
                   Di  sepanjang  perjalanan,  hanya  suara  motor  dan  angin  malam  yang  menemani  mereka.
                   Keheningan itu terasa canggung. Aip ingin mengatakan sesuatu, tetapi lidahnya kelu. Ia menggigit
                   bibirnya, menatap jalanan yang remang di depan.
                   Asep sepertinya merasakan kecanggungan itu juga. Setelah beberapa menit, ia akhirnya membuka
                   pembicaraan.
                   “Aip, rumah kamu adem, ya. Banyak pohon di depannya.”
                   Aip tersenyum tipis meski Asep tak bisa melihatnya.  “Iya, soalnya Ibu suka nanem pohon. Katanya
                   biar udara sejuk.”
                   “Oh, pantesan  enak  banget suasananya,”  kata  Asep  sambil mengangguk pelan.  “Aku jadi
                   pengen main ke rumah kamu lagi.”
                   Ucapan itu membuat pipi Aip merona. Ia berusaha menahan senyum, tapi jantungnya berdegup
                   semakin cepat.  “Hehe, main aja kapan-kapan. Ibu juga suka kalau ada tamu.”
                   Mereka kembali terdiam. Namun, keheningan kali ini terasa lebih nyaman. Aip mulai merasa rileks,
                   menikmati  embusan  angin  malam  dan  suara  motor  yang  berirama.  Tangan  Aip  tanpa  sadar
                   menggenggam jaket Asep sedikit lebih erat.
                   Asep tampaknya menyadari itu.  “Kamu dingin, ya?”  tanyanya dengan suara lembut.

                   “Enggak kok,”  jawab Aip cepat, meski sebenarnya ia merasa sedikit kedinginan. Namun, ia lebih
                   takut kehilangan momen ini—momen di mana ia merasa begitu dekat dengan Asep.
                   “Kalau dingin, bilang aja,”  ujar Asep.  “Nanti kita bisa berhenti sebentar.”
   1   2   3   4   5   6   7   8   9   10   11