Page 45 - KATALOG DIGITAL SITUS PENGGING
P. 45

M A T E R I












                    Pemberontakan Mataram


                       Setelah Ki Ageng Pemanahan meninggal pada tahun 1575, anaknya, Sutawijaya diangkat
               menjadi penguasa baru Mataram. Ia diberi hak oleh Pajang untuk tidak menghadap selama
               setahun  penuh.  Setahun  telah  berlalu,  Sutawijaya  tak  kunjung  menghadap  Pajang  atas
               kondisi  di  wilayahnya.  Jaka  Tingkir  mengutus  Ngabehi  Wiralama  (Mas  Wira)  dan  Ngabehi
               Wuragil  (Ki  Wuragil)  untuk  meninjau  desa  itu.  Namun  saat  bertemu  Sutawijaya,  mereka
               diperlakukan kurang sopan. Namun kedua pejabat senior itu menyampaikan laporan secara
               halus pada Jaka Tingkir.
                        Tahun demi tahun berlalu, Jaka Tingkir kembali mengirim utusan ke Mataram. Saat itu
               yang berangkat adalah Pangeran Benawa (putra mahkota), Arya Pamalad (menantunya yang
               menjadi Adipati Tuban) serta Patih Mancanegara (Mas Manca). Pada saat itu Mataram telah
               maju pesat. Sutawijaya menjamu tamu dari Pajang itu dengan pesta besar. Di tengah pesta
               itu  putra  sulung  Sutawijaya  yang  bernama  Raden  Rangga,  membunuh  seorang  prajurit
               Tuban.  Arya  Pamalad  melaporkan  keburukan  Sutawijaya  dan  keluarganya.  Seiring  waktu,
               konflik antara Pajang dengan Mataram terus memanas.




                        Kematian Jaka Tingkir


                             Ketika  terjadi  perang  antara  Pajang  dan
                     Mataram  tak  terhindarkan.  Pasukan  Pajang
                     yang jumlahnya lebih banyak harus menderita
                     kekalahan.  Jaka  Tingkir  semakin  tergoncang
                     saat  mendengar  Gunung  Merapi  tiba-tiba
                     meletus dan laharnya ikut menerjang pasukan
                     Pajang.  Ia  pun  meminta  pasukannya  untuk
                     mundur. Dalam perjalanan kembali ke Pajang,
                     Jaka  Tingkir  singgah  di  makam  Sunan
                     Tembayat.  Setelah  melanjutkan  perjalanan,  ia
                     jatuh  dari  gajah  tunggangannya  sehingga  ia
                     harus  diusung  dengan  tandu  hingga  tiba  di     Gambar  makam  Jaka  Tingkir  di  Butuh,
                     Pajang.                                             Gedongan,  Plupuh,  Dusun  II,  Gedongan,  Kec.
                          Sesampainya di Pajang, sakitnya bertambah      Plupuh, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah
                     parah.  Saat  itu  pula  ia  berwasiat  agar  anak-  Sumber:
                                                                         https://bondowoso.jatimnetwork.com/
                     anak  dan  menantunya  jangan  ada  yang
                     membenci  Sutawijaya,  karena  perang  antara
                     Pajang dan Mataram ia yakini sebagai takdir.
                     Selain  itu,  ia  sudah  menganggap  Sutawijaya
                     sebagai  anaknya  sendiri.  Tak  lama  berselang,
                     tepatnya  tahun  1582,  Jaka  Tingkir  meninggal
                     dunia.  Ia  dimakamkan  di  Desa  Butuh  yang
                     merupakan kampung halaman ibunya.


     42

                  Sejarah Lokal
   40   41   42   43   44   45   46   47   48   49   50