Page 344 - THE SERENDIPITY OF FIRST SIGHT BY GAMALIA15
P. 344
bicaranya yang terlalu dewasa, seolah ia sudah melewati semua
musim kehidupan bersama orang lain.
Bahkan, saat teman-temanku mencoba menghiburku
dengan mengenalkan Banu, aku sempat berucap tanpa sadar, "Dia
bukan duda, kan? Wajahnya seperti duda yang ditinggal istri
selingkuh."
Tuhan, ternyata itu adalah refleksi dari diri Farras yang
sudah terdeteksi oleh batinku. Bahkan dalam sebuah tangis di
kamar, aku pernah sesumbar pada sahabatku, "Jika suatu saat dia
menikah dan bercerai, aku akan tetap menerimanya." Temanku
memakiku saat itu, namun siapa sangka, lidahku sedang meramal
masa depan yang pahit.
Malam itu kami bertemu. Ia pulang lebih awal, dan aku
menyadari satu hal: jika ia mau, ia sebenarnya tidak sesibuk itu.
Alasannya menghindar selama ini bukan karena tumpukan
pekerjaan, tapi karena aku memang bukan lagi prioritas yang
layak diperjuangkan.
Sekitar pukul 19.00 WIB, Farras sampai di depan kosku. Ia
meminta izin untuk duduk di teras, namun aku menolak. Aku tidak
ingin jejaknya mengotori ruang pribadiku lebih jauh. Kami
berakhir di sebuah warkop sederhana. Aku memesan kopi,
sesuatu yang sebenarnya tak bersahabat dengan lambungku,
344

