Page 339 - THE SERENDIPITY OF FIRST SIGHT BY GAMALIA15
P. 339
yang suka mengejekku dengan tengil, bukan Farras yang terus-
menerus melontarkan kata maaf seolah ia adalah beban.
Tengah hari berikutnya, sebuah pesan masuk membawa
secercah harapan. "Nanti pulang ketemu ya."
"Nanti bohong lagi, jadi ngga jadi kabarin jam 4 ya. Biar kalo ngga
jadi aku bisa beli makan untuk berbuka puasa" balasku skeptis.
Kecewa sudah menjadi kawan akrab karena janji-janji yang
seringkali gugur demi pekerjaan. Ia kemudian mengirimkan hasil
laboratoriumnya semalam, memintaku membacanya. Secara
medis, semuanya tampak normal, kecuali angka leukosit yang
melonjak tinggi, sebuah sinyal bahwa tubuhnya sedang berjuang
melawan peradangan akibat imunitas yang anjlok karena tekanan
batin. Aku mencoba meyakinkannya bahwa ia akan baik-baik saja,
bahwa ia hanya butuh jeda dari segala hiruk-pikuk dunianya.
Setelah itu dia pamit untuk kembali bekerja.
Rasanya tidak sabar untuk segera pulang, kemudian bersiap-
siap untuk bertemu dengan laki-laki yang sudah aku rindukan
selama ini. Namun, kutukan itu kembali hadir pukul lima sore.
"Aku ditahan bos, astaghfirullah."
"Yaudahlah," jawabku singkat.
Kecewa itu kini terasa hambar, seolah aku sudah memprediksi
alurnya.
339

