Page 338 - THE SERENDIPITY OF FIRST SIGHT BY GAMALIA15
P. 338
Di tengah keheningan malam, Farras bercerita bahwa
kondisinya merosot tajam akibat tekanan stres yang menderanya
beberapa hari terakhir. Malam itu, ia terpaksa ke IGD untuk
pemeriksaan darah. Melalui layar ponsel, ia menunjukkan suasana
rumah sakit yang dingin, membuktikan bahwa ia tidak sedang
bersandiwara.
"Kenapa nggak bilang?" tanyaku dengan suara bergetar, air mata
mulai membasahi pipi.
"Maaf, aku takut kamu khawatir," jawabnya dengan suara yang
begitu lirih, hampir tak terdengar.
Ia berusaha menenangkan dengan mengirimkan tangkapan
layar peta; rumah sakit itu hanya berjarak lima menit dari
rumahnya. "Aku nggak apa-apa, ini juga aku bawa mobil ko."
"Ya udah, pulang dulu," balasku cepat.
Aku segera mematikan sambungan itu sebelum ia sempat
melakukannya lebih dulu. Ada trauma yang membekas di sana,
ketakutan akan diabaikan yang membuatku selalu ingin menjadi
pihak yang mengakhiri percakapan.
Malam itu, hatiku menjadi medan tempur antara rasa lega
karena ia tidak benar-benar pergi, dan rasa sedih melihatnya yang
kini begitu rapuh. Aku merindukan Farras yang dulu, yang lantang,
338

