Page 334 - THE SERENDIPITY OF FIRST SIGHT BY GAMALIA15
P. 334
mineral. Kami juga memesan martabak kuah kari. Menunggu
adzan berkumandang, meja kami dipenuhi oleh tawa-tawa kecil
dan candaan ringan. Suasana terasa hangat, mengalir begitu saja
tanpa beban.
Waktu bergulir tanpa terasa hingga jarum jam menunjuk
angka delapan malam. Enggan menyudahi obrolan, kami
memutuskan untuk berpindah ke area rooftop . Dari ketinggian ini,
kami melihat berbagai kendaraan yang lalu lalang. Di sana, di
bawah hembusan angin malam, kami kembali melempar candaan-
,
candaan random menertawakan hal-hal kecil yang sebenarnya
tidak terlalu lucu, namun terasa berharga. Di sela-sela candaan,
kami menyempatkan untuk war shopee, berburu barang receh.
Ketenangan kami sedikit terusik ketika alunan live music
mulai menggema dari lantai bawah. Kami pun memutuskan untuk
turun kembali ke lantai satu, mencari atmosfer yang berbeda. Di
lantai bawah, melodi mengalun perlahan, mengisi sela-sela
kekosongan udara. Satu per satu lagu dinyanyikan. Alunan nada
yang awalnya asing lambat laun bertransformasi menjadi mesin
waktu yang kejam. Lagu-lagu itu mulai mengetuk pintu ingatan,
membisikkan satu nama yang selalu berhasil menggetarkan sudut
hatiku: Farras.
334

