Page 329 - THE SERENDIPITY OF FIRST SIGHT BY GAMALIA15
P. 329
menyesap ketenangan, panggilannya adalah prioritas yang selalu
kusambut dengan segera.
Di ujung telepon, suaranya terdengar di antara deru hujan. Ia
bercerita tentang keuangannya. Dia juga memberitahuku bahwa
renovasi rumahnya akhirnya telah rampung. Aku yang penasaran
segera memintanya untuk berbagi visual dari sudut-sudut hunian
barunya itu. Begitu sambungan terputus, ia segera mengirimkan
beberapa foto rumah, diikuti oleh sebuah tangkapan layar dari
grup percakapan keluarganya.
Di sana terpampang sebuah undangan buka puasa bersama.
Hari Minggu nanti, ia dijadwalkan menghadiri pertemuan
keluarga besar almarhumah mamanya di Bogor, dan acara itu
dimulai sangat awal, pukul sepuluh pagi. Entah mengapa, di saat
itu juga, ada benih sangsi yang mulai tumbuh di sudut hatiku.
Kepercayaanku sedikit terusik oleh tanya yang tak terucap
“apakah ini sekadar alibi yang disusun rapi agar kami tidak perlu
bertemu?” Namun, sedetik kemudian aku berusaha membunuh
pikiran itu. Aku memilih untuk tidak peduli, atau mungkin,
mencoba untuk mengerti. Aku tahu benar posisinya, tanpa ia
mengajakku pun, aku memahami bahwa dompetnya sedang
berjuang di titik nadir. Dalam diam, aku hanya bisa menelan segala
329

