Page 324 - THE SERENDIPITY OF FIRST SIGHT BY GAMALIA15
P. 324
"Enggak mau. Enggak doyan," tolakku spontan.
"Harus mau. Dipaksa," balasnya dengan nada lembut namun tegas.
Ia terus mendesakku, sebab mata telitinya menangkap perubahan
fisikku yang belakangan ini tampak layu dan kurang sehat.
Ketika adzan magrib mulai berkumandang membelah langit
malam, meja kami masih saja kosong. Obrolan yang semula
dipenuhi canda tawa perlahan berubah menjadi omelan kecil yang
sarat akan rasa lapar. Beruntung, tak lama berselang, hidangan
yang dinanti datang satu per satu.
"Nasi gorengnya dimakan ya, beberapa suap aja," bujuk Uda,
menggeser piring ke hadapanku.
Ia menatapku lekat sambil tersenyum lalu menyambung,
"Sekarang buka puasanya enggak sendiri lagi, kan?"
Kalimat itu menghantam dadaku dengan lembut. Uda memang
selalu begitu. Dialah orang pertama yang selalu melipat jarak
setiap kali aku menangis. Ketika aku menangis sejadi-jadinya di
hari pertama Ramadan lalu karena penolakan Farras yang
mematahkan hatiku, Uda tanpa ragu langsung mengatur ulang
jadwal libur kerjanya hanya demi menemuiku di Cipinang.
Mie Bangladesh sejatinya paling nikmat disantap bersama
puding telur setengah matang. Namun, lidahku sama sekali tidak
bersahabat dengan kuliner itu.
324

